Tak mampu lgi membacamu
seperti laku ku kemarin
Bukan buta aksara
Tapi ego mu tutupi setiap hurufnya
Hitam kan semua
Kewalahan aku menjahit rindu ini
Benci mu menusuk dan tak ingin kusulam
Karena Benangnya pun telah kaku
semakin tajam, jijik
Lebih parahnya
Aku tak mampu matikan api ini
Biar ku jaga saja
Dan tak ku bakar lagi
Cukuplah untuk hangatkan diriku sendiri
Tapi maaf.
Jangan coba cari lagi saat gelap hampirimu.
Karena hitam adalah gelap
Kau harus tau itu.
Jembatan merah
12 - 12 - 10
-aku pun tak mampu lagi-
Ini adalah surat cinta tentang sebuah sungai, dimana mengalir dari hulu ke hilir, ke pantai lalu ke samudera. tapi aku adalah kebalikan. Ini adalah surat cinta diam-diam, untuk kamu yang bisa membaca tanpa bisa menerjemahkan. ini aku yang membacamu, dan aku suka.
Monday, December 13, 2010
Kesendirian atau kesepian??
Seorang teman prnah bicara sama saya tentang 'sendiri' .. Kesendirian.. Bahwa manusia itu butuh untuk sendiri.. Meski tdk melupakan kodratnya sebagai makhluk sosial. Tapi apakah kesendirian itu manifestasi dari kesepian... Mampukah menjelaskan tentang kesendirian yang berujung pada kesepian...
Ketika aku berjalan ke kantor dipagi hari... Sendiri
Saat aku mengerjakan semua pekerjaan.. Sendiri
Berjuang untuk mencari uang demi untuk bayar kontrakan, makan dan kebutuhan primer lainnya.. Sendiri
Ketika aku duduk didalam bioskop untuk menonton film hanya seorang diri...
Berjalan selangkah demi langkah sambil mendengarkan musik dikuping. Sendiri
Duduk berjam jam diwarung kopi menikmati secangkir kopi hitam. Sendiri
Semua itu kesendiran atau kesepian?
Ketika aku mengigil karena demam dan dikamar kostan hanya aku ada aku sendiri... Itukah kesepian??
Saat aku menahan sesak karena dada diserang asma.. Itukah kesendirian?S
aat aku bertahan dari semua orang yang 'menghujat'.. Sendiri
Ketika aku menangis dikamar mandi sendiri tanpa bahu yang menopang atau tangan yang menghapus air mata... Itukah kesendirian atau kesepian??
Saat aku bersama teman2 tertawa, becanda tapi merasa kosong... Itukah kesendirian?? Atau kesepian....???
Atau aku menjaga semua cerita yang penting untuk ku dan mungkin tidak penting bagi orang lain... Itukah kesepian? Atau kesendirian...
kesendirian bukan hanya 'sekedar memiliki kekasih' atau 'tingggal sendiri' (status) tapi kesendirian adalah ketika diri kita sendiri mampu untuk mengendalikan semua sendiri. Ego yang mampu kita kendalikan, rasa yang mampu kita jaga, cinta untuk keluarga yang mampu kita ciptakan, cinta untuk teman2 terbaik yang selalu kita bina, cinta dan ketulusan untuk orang sekeliling yang selalu kita pupuk, marah kita yang mampu kita tahan, kebingungan yang mampu kita jawab sendiri, rasa sakit yang bisa kita obati sendiri dan cinta untuk Tuhan yang kita genggam dan tidak pernah mati. Kita mengerti tentang itu semua sendiri, dengan hati kita sendiri, lakukan dengan kemampuan kita sendiri, pilihan kita sendiri, sebagai teman untuk diri kita sendiri, mencintai dirikita sendiri agar kita menemukan jalan dan melalui proses yang terbaik untuk kita sendiri, untuk hidup kita.
Sedangkan kesepian adalah rasa tidak menerima dari kehilangan apa yang kita inginkan.. Tidak mensyukuri betapa berdiri sendiri adalah anugrah, kesepian itu sesat, membuat manusia lepas kontrol dengan cara yang salah, tidak menerima keadaan ketika kita tidak dicintai, kesepian adalah rasa terdalam dari keegoisan manusia untuk memiliki, ego manusia ketika menginginkan hal yang dia inginkan tanpa mampu ia dapatkan. Kesepian itu lemah. Buat manusia jadi lemah, mengejar hasrat. Membuat semua yang kita harus syukuri akhirnya hilang. Kesepian itu rindu untuk mendapatkan apayang pernah kita memiliki tapi tak mampu kita raih.
Kesepian itu jahat. Buat hati menjadi perih, logika hilang, air mata begitu saja tumpah.
Yang sulit adalah ketika menuju kesendirian kita akan melalui proses kesepian yang akan menghancurkan siklus dari proses kesendirian kita. Tak bisa dipungkiri.
Dan kini aku sendiri dalam kamar, tanpa siapa pun yang bisa aku ajak bicara, aku ajak becerita (meski aku tak memiliki lagi energi untuk itu) Aku hanya berfikir bisakah aku memisahkan antara kesendirian dan kesepian? Mampukah aku menikmati proses kesendirian? Sedangkan kesepian semakin menusuk ku, mengejarku.. Aku tak mau lemah...
Aku hanya ingin menikmati kesendirian tanpa terbelenggu kesepian... Karena kesendirian bukanlah kesepian. Dan sekarang aku belajar dari itu.
09desember2010
Setahun setelah semuanya berlalu. Berubah.
Setahun setelah aku dipaksa sadar untuk bisa menikmati kesendirian.
Monday, December 6, 2010
Jingga. Aku
aku ada sebagai apa?
Harap untuk terang mu..?
Atau jingga tertinggal dibelakangmu..
Pantaskah aku menari bersama cenderawasih
Tarikan lagu sambutan untuk mentari
Dalam syair yang ku ukir diatas embun
Sampaikan sejuknya kabut sambut padi menguning
Akukah Sang Mentari??
Mungkin aku hanya semu ketika semua orang lelah
Bersender di koridor jalanan kota
Menunggu jalanan kosong agar aku bisa pulang
Pulang ke dalam gelap
Bersama sang malam.
Menunggu jingga menjadi hitam
Ya aku tau aku apa.
Aku tau saat kita bersapaan
Di ujung tangga
Harusnya aku lebih peka.
Dengan jingga yang kita lukis
Saat senja kemarin...
Ruangan Kaku didalam kantor
06 Desember 2010
Sekali lagi, aku sebut diriku senja,. Pesimis
Bumi, Hujan dan Malam
Kutuliskan ini tentang Bumi, Hujan dan Malam.
Aku tau angin pun tak ingin dengar, ya mereka pun lelah harus tiup bahasa kalbu seorang pesakitan. Tak mungkin ku akhiri diri, toh tetap harus melangkah, berlalu meninggalkan kisah tentang mereka didalam Senja. Didalam AKU.
Tentang Sang Bumi telah berlalu dengan Bulan miliknya
Saling mengikat rindu lupakan Senja berganti masa.
Tak ingat saat bumi cumbui Senja. Sebentar
Hingga Bulan datang
Senja menangis. Menangis selamanya
Rasa kan Sang Hujan
Tenangkan aku lalui gerimis biarpun sempat kurasakan badai, dinginnya hangatnya ku butuh suaranya. Penghapus lara.
Malam... terjebak dalam gelap, berusaha tepikan senja.
Ingin aku katakan ’aku tak akan mampu’
Aku tetap kuasai langit untuk menggapai mu....
Singkirkan matahari..
Menjadi bintang dalam malam mu..
Biarpun kau terus terbang jauhi khayangan
Terus cari `dewi malam` mu
Senja akan terus buntuti mu
Kau akan tetap bagian dari angkasa.
Inilah permainanya.
Sangat tak adil untuk senja.
Yang terus berdiri diatas bumi..
Diisi derasnya hujan
Tanpa bisa miliki malam....
Tak ada yang adil di Semesta ini.
Aku yakin itu.
RwMangun. 06 Desember 2010
Sungguh, aku ingin mereka...
Aku pun pernah..
Aku pun pernah miliki bumi
Lalu runtuh terbius semesta
Tak mampu ikuti porosnya
Aku bermandi dalam hujan jua
Hingga badai menghempas aku tersesak
Dan hujan berhenti aku menyerah
Malam…
Bukan dingin lagi yang ingin kau sapa. Aku tau
Telah lelah pada beku
Bahkan malam tak coba masuki aku
Terbiuskah pada galau
Rasakan titik nadir gelap mengikat
Munafik mu pada tulisanmu
Tak mampu kau tulis semua dalam gelap
Meski kau berlari, tetap jadi malam ku
Aku bantu kau keluar
Perlahan saja
Tak sungkan, tak apa
Aku masih setia pada malam
Lengkapi bumi dan hujan
Lalui aliran air mata berbatu
6 Des 2010- 10.10
Lantai 2, Rw.Mangun
Reaksi dari sebuah tulisan yang hanya sepenggal
Saturday, December 4, 2010
Malam dalam lentera
Aku memaku jalan dengan sunyi
Cukup untuk ku terbang
Tanpa pijak
Aku menoleh
Tak dapati sang malam ku
Kembali lagi bergeming
Lentera berdiri
Ia disamping jembatan
Mulai menari perlahan
Bawakan melodi pesakitan
Semua mampu kuciumi rembulan lalu
Ku baui setiap ilalang mematung
Kuhafal lagi
Bukan lagi debu tersapu embun
Bukan lagi ego tergerus hasrat
Hanya ada tanah basah bermandi hujan
Karena ketika ku menoleh
Bukan lagi malam atau bahkan lentera
Yang ada di jalan ku kini…
OvalRoy
Rumah ku dulu, 04 Des 10
Disetiap debu yang ku bawa dalam langkah itulah kehilangan ku terendap
Maaf Untuk Ini
Maaf
Aku masih mencari rindu dimata mu
Yang bahkan tak mampu kulihat..
Maaf
Sekali lagi maaf
Untuk rindu yang masih saja bertahan
Meskipun aku sudah memaksanya untuk pergi...
Maaf
Cukupkah ?
OvalRoy,
Rawamangun.
03Des10
Thursday, December 2, 2010
Monday, November 29, 2010
Peti untuk kee
Kee. maaf, aku belum mampu untuk menutup peti itu. aku hanya meninggalkannya diruang paling dalam di istana ini. jadi bila suatu hari nanti kamu kembali dari pertempuran itu dan mencari peti itu lagi aku akan menunjukan jalan dimana peti itu ku simpan dan berharap semoga peti itu tetap terbuka. Atau bila saja kau tidak pernah kembali untuk mencari peti itu akan ku buat sayembara bagi pangeran yang telah berjibaku dengan medan pertempuran di seberang lautan yang lain untuk membantuku menutup peti itu dan berteriak bersama angin yang telah kulepaskan.
Sedetik mampu buat lariku semakin cepat untuk menyusuri lorong kastil gelap ini sesaat setelah aku menyimpan rapi peti itu. Aku tidak mau dekati lagi tempat itu, meskipun aku masih mampu menginat baunya, tekstur kasar dindingnya bahkan euforianya dan Kau tidak akan pernah menemukannya kee. Tidak dirimu. Pelayan mu. Ajudan mu bahkan raja mu. Hanya aku yang tau dimana aku letakkan peti itu, dan tidak akan pernah kubiarkan orang lain mendekat dan ingin tau. Aku menjaga sekeliling peti itu kee, nanti ketika pesta istana yang megah semua pangeran, kerabat kerajaan dan selir – selir berkumpul mencicipi anggur yang dikirim dari negeri Napoleon Bonaparte untuk merayakan perdamaian kerajaan ini dan cake blueberry terenak yang dibuat koki istana gandumnya pun dikirim dari negeri kuda terbang, ini akan jadi pesta yang sempurna. Kau tau itu. Lalu kita saling mendekat bukan ragaku, aku pasti masih tetap jadi penghias pesta ini dan kamu adalah tamu utamanya. Tapi posisinya tidak akan seperti itu lagi kini dengan semua situasi ini didepan raja didepan semua tamu undangan kamu pasti akan menatapku dengan tatapanmu yang dingin dan tersirat padahal kita pasti akan berada di meja yang sama ketika si pelayan menawarkan makanan pembukanya, lalu lihat saja dengan nekad aku aku akan menghampirimu tidak bukan kamu tapi teman – teman mu, ini tuntutan kerajaan kee, aku lah lyra kau tidak lupa itu bukan? tapi jangan berharap kau akan tau kalau peti itu masih aku simpan, jangan coba – coba cari tahu, kau tidak akan temukan itu didalam tatapan mataku, kau akan bingung karena aku sudah memantrainya dengan senyuman, dengan tawa, lalu aku memantrai mereka para tamu pesta dengan lelucon yang membuat kepala mereka sakit karena tertawa terlalu keras dan menarik urat di antara leher dan kepala mereka.
Kembali kemalam ini, malam dimana ini adalah titik terakhirku. Titik ketika aku harus bersujud kepada rembulan seakan mengantarkan nyawa karena aku tidak mampu lagi untuk membangun kastil kecil di dalam hidup ku sendiri, ini adalah titik terakhir ku. Aku sudah berusaha semampuku untuk terus mengayuh perahu kecil di tengah danau itu untuk sampai di sisi satunya, menjauhi segala elegi dan tekanan yang masih membuntutiku.
Ini adalah masa terakhir ketika aku tak sanggup seberangi sungai ini, sisa udara di paru paru ku telah habis kee..
Iya ini adalah titik terakhir, dimana aku telah berhenti untuk berharap.
Hujan masih terus mengguyur kastil malam ini. Tau kah kamu.. khayalan ku tentang pesta tadi buat lari ku semakin kencang, buat langkahku semakin jauh, semakin cepat lari ini aku semakin sakit , kaki ku bahkan lecet dan kemerahan. Sedikit sedikit darah mulai basahi sepatu kayu dengan hak tujuh senti yang membuat kaki ku semakin luka. Ingin rasanya aku terjungkal. Tapi aku bertahan untuk berlari, berlari jauhi tempat dimana aku letakkan peti itu. Meskipun kadang gaunku sendiri mengikat kaki ku dan buat aku terjatuh.
Ingin sekali rasanya aku keluar kastil ini, melalui hutan duri yang mengeluarkan bisa dengan kaki ku sendiri, tanpa kuda atau kencana. pergi ke semak belukar untuk mencari savana diatas bukit kecil dan ciptakan pondok yang mungil dengan tanganku sendiri sambil membelai anak – anak yang kehilangan ibu dan ayah mereka karena perang yang kamu pun sudah merasa lelah dengan kerajaan yang tak mampu buat kedamaian, tidakkah kau bayangkan betapa pondok itu sangat ceria dengan kehadiran mereka dan betapa aku ingin membasuh mereka dengan cinta ketika mereka merindukan ayah dan ibunya, anak anak itu akan jadi raja ku. Akan jadi poros hidup ku kee, kau tau itu... ahh, aku semakin sakit mengingatnya, ini seperti hipnotis yang selalu menuntunku tapi aku belum mampu. Aku masih harus menjadi lyra yang tunduk pada rezim kerajaan ini, aku masih harus mengajar para dayang istana bagaimana cara melayani raja yang sedang kehausan dan kedinginan agar kelak mereka pun di jadikan selir.
Suara hujan itu semakin menarik ku kee.
Aku ingin bercumbu dengan hujan, rasakan setiap tetesnya yang akan menyakiti kulitku, setiap partikel tetesannya bergerak seperti jarum yang telah bersiap untuk menusuk ku. Hujan itu menyakitkan untuk ku, tapi akan jadi candu, temani aku yang setengah tak mampu untuk hadapi hidup dan segala kebijaksanaan palsu.
Kini aku hampir gila. Bayangkan saja bagaimana mereka tidak berfikir aku gila, aku tertawa sendiri kee, lalu sedetik aku menangis, lalu aku marah, lihat aku sudah menjadi gila sekarang. Puas kah kau? Andai tak pernah ku coba ciptakan peti yang telah terkutuk itu ( peti itu tidak terkutuk kee itu peti suci yang hadir pada waktu yang salah) maka aku akan hidup seperti biasanya, tunduk pada karajaan, menikmati matahari yang selalu menyambutku dengan silau, kadang aku rindukan menatap danau di seberang pintu kastil ini dari atas kamar ku, bukan kamar ku tapi kamar kami para selir.
Ingatkah kamu dengan danau itu kee, danau Elysia menurut dewa ku itu adalah danau surga dimana semua manusia yang bisa sampai dan menikmati danau itu adalah manusia yang sudah disakiti sebelumnya lalu kembali menjadi manusia yang labih manusiawi lagi.
Kita pernah disana kee, sebentar, hanya beberapa jam. Kamu diamkan aku dan aku terus bermain main main dengan percikan air yang sesuci air susu ibuku, segarnya pun seperti gerimis, hmm.. aku suka.
Aku masih sangat ingat bagiamana aku berlari mencari pelana kuda milik Pangeran Qquila yang ada di istal kuda hitam miliknya, Hero nama kudanya, kamu tau aku suka sekali warna kulit hero yang berkilau seperti beludru hitam dari negeri aladin.
aku mencuri pelana kuda itu sebentar, "maaf pangeran Aquila aku tak mampu jujur padamu, apa jadinya bila aku akui telah gunakan pelana itu untuk sekedar mandi di danau Elysia." Dia bisa marah dan semakin menginjak injak aku.
Setelah aku mengajarkan kepada para dayang istana cara bermain harpa milik permaisuri, tau kah kau kee, disetiap petikan harpa itu ada lagu cinta yang aku nyanyikan, lagu cinta untukmu yang tak mampu aku nyanyikan didepanmu bahkan ketika aku didepan cermin sekalipun. Lagu ini terlalu sulit. Kutemukan lagu ini ketika aku tertidur lelah aku bermimpi sepertinya kau petikan barisan nada itu untuk ku, lalu aku terbangun mencari harpa ku dan mulai memaainkan petikan lagu yang indah itu. Ironis tapi itulah kenyataan, sekilas bulan seperti tersenyum dimalam itu dan daun daun berguguran menandakan saatnya aku menyambut lagi nyanyian suci yang dewa kirimkan untukku.
Aku memacu hero dengan cepat aku ingin cepat sampai di Elysia. Untuk bertemu denganmu yang telah menunggu dengan pensil lukismu, aku ingin sekali kau lukis kee, menjadikan diriku ini nyata dan terlukis abadi dalam kertas putihmu.
Lalu aku tiba di Elysia dan benar dugaanku kau telah menunggu ku, oh tidak kau tidak menunggu ku kau memang disana tapi untuk mencuci pedang mu dengan air di danau Elysia yang suci. Aku senang kita masih berada di tempat yang sama, meski hanya sebentar. Kita berbicara, aku berenang seperti duyung yang terpesona dengan pangeran tampan dari daratan. Aku terlena, terlena dengan fatamorgana elysia meskipun kau harus pergi lagi dengan pedangmu menyusuri hutan berduri yang dijaga para manusia yang murka karena tidak diizinkan untuk bermandi di elysia, kau memangisi mereka, mereka jadi teman untuk mu meski mereka bernanah dan berbau. Mereka memang tak pantas di elysia tapi kau tau mereka hanya jelata yang tidak berdaya. Jadi wajar bila akhirnya kau rangkul mereka. Karena kau seperti Robin hood dari negeri lain yang ceritanya sangat terkenal dinegeri kita ini.
Setelah kau melaju dengan pedangmu aku masih disini, di Elysia, memungut sisa sisa rautan pensil mu dan kain bekas kau membasuh pedang mu, menciumi jejak mu, ya ini lah candu sampai aku menemukan sebongkah kayu yang akhirnya ku bawa kemana ku pergi.
Amore menghampiri aku, dia berbisik..
”wahai lyra sang selir raja yang terluka. Tidakkah kau percaya bahwa ada yang lebih suci dari kesetian mu pada Raja, tidak irikah kau lihat raja bersama ratu duduk disinggasana dan saling bersuap anggur yang kau petik di halaman istana”
”Amore, aku bisa apa.. aku tak mampu untuk berlari. Aku berada di Elysia ini pun dengan susah payah karena aku tak mampu lagi menikmati segarnya danau dalam istana, semua terasa menusuk, mencekik”
Aku menunduk memandang telapak kaki amore yang sangat bersih, kukunya seperti susu.
”anakku lyra.. ambilah kayu cheddar itu, kayu yang harum yang akan melapangkan nafasmu ketika kamu merasa sesak”
Aku mengambil kayu itu kee, tanpa tau untuk apa.
”lyra, buatlah peti yang akan kau isi dengan nafasmu, dengan kasihmu, ketulusanmu, kejujuran mu, buatlah peti untuknya, bukalah terus peti itu, agar harum peti itu selalu terasa dan mengikuti kemana pun kamu melangkah lyra.”
Aku menunduk, aku tak mampu membuat peti aku tak mampu memaku kembali dan tanganku pasti akan berdarah lagi ketika memaku.
”aku tak mampu membuat peti amore, aku takut akan berdarah lagi, tertusuk lagi dan luka ini akan membekas, sama seperti ketika Kaisar di negeri sana buat ini pada ku, dy berikan aku leontin, tapi aku tak mampu menjaganya hingga jatuh dan pecah, kau tau amore pecahannya mengenai tubuhkum dan itu tidak akan pernah hilang, aku merasa sakit itu kadang masih ada, aku rasa aku sudah dikutuk. Jadi amore aku tidak ingin berurusan lagi dengan benda – benda yang pasti akan sangat menyakitkan”
Aku terisak dalam tangisan amore yang sangat harum dan begitu menggoda
” tidak kah lagi kau rasa rindu pada bau ku lyra sayang”
Aku terdiam.. tak mampu menjawab amore.
”lyra, peti itu akan tercipta untuk darah yang masih mempunyai harapan walaupun telah dikecewakan, untuk angkasa yang masih percaya walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada hujan yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan. Aku akan disini menghimpun mereka semua, dan peti itu akan menjadi jalanmu menghadirkan lagi aku dalam setiap nyanyian harpamu... dewa pun mengerti lyra”
*****
Aku benci dengan pertemuan amore hari itu kee, dia buat aku percaya akan peti suci yang aku ciptakan, setelah itu aku mulai sembunyi sembunyi mencari perkakas didalam kamarku, aku ketuk itu, aku buat pelan – pelan. Semuanya aku lakukan sendiri, kadang ingin menyerah tapi aku kembali terlena dengan bentuk peti yang sudah hampir sempurna dengan kilauan indah dari setiap air mataku yang menetes diatas kayu cheddar itu, dengan warna merahnya yang tercipta dari darahku yang tulus ku persembahkan dengan kasih, dan tau kah kau kee, aku bercerita pada peti itu, aku isi peti itu dengan lukisanmu, lalu tatap peti itu dengan logika.
Ini adalah peti yang aku dambakan.
Sampai malam itu aku sadar ternyata amore salah, dia hanya pembohong dunia. Peti ini terkutuk.
Aku letakkan peti ini didalam pelana kuda mu. Aku yakin kau akan temukan peti, jagalah kee, fikirku, tapi tidak. Kau bahkan tak menghampiri ku yang menunggumu didepan gerbang istana. Kau hanya diam. Meluncurkan panah yang berduri dari tatapan matamu. Seketika aku tau, aku telah diperdaya amore, sia sia kah darah ku selama ini tangisku setiap malam.
Tak mampukah peti penuh harapan itu kau simpan atau setidaknya kau sentuh.
Kau lempar peti itu, dan terinjak oleh kuda mu. Lalu kau berlari jauhi ku...
Tanpa aku tau ada apa?
Kurangkah aku memantrai peti ini??
Terlalu buruk kah bentuknya...?
Katakan kee...
Tapi kau semakin berlalu. Aku tertatih dalam hujan mendekati peti ku, ternyata peti itu tidak hancur hanya dicampakan, aku pungut lagi serpihan itu, aku kumpulkan lagi semuanya.
Aku menangis.
Hujan pun jadi saksi.
Apa karena aku hanya selir?
Yang tidak dipedulikan raja.. jadi perhiasan raja yang menyakitkan aku.
Aku ingin berlari kee. Berlari ke pondok kecil di savana itu. Bersama mu.
Tapi kau buang semua yang aku punya.
Dan aku mantrai peti ini.
Kasih ini. Ketulusan ini.
“Amore yang suci, amore yang telah menipu aku, aku bersumpah padamu. Dia akan mencari lagi peti ini ketika dia telah lelah dengan dunianya.. dia akan pergi ke Elysia lagi mencari aku atau kamu tapi dia tidak akan mampu menemukan kayu Cheddar yang seperti punyaku, karena dia akan terdiam dengan pedang nya sendiri. Dia akan tenggelam dengan diamnya dan petiku lah yang akan menyembuhkannya”
Ku ucapkan doaku diantara bau hujan yang menusuk. Lalu dinginnya membelai. Hujan seakan merestui pahit yang aku rasakan.
Aku berlari ke ruang paling gelapan di istana ini. Aku letakkan peti itu sendiri diantara lumut yang basah. Aku letakkan itu.
Aku letakkan peti itu yang membisu.
”petiku, pemilikmu kini sedang memlalui peperangan yang akan menyakiti dirinya sendiri, bau kayu cheddar mu akan mampu untuk selalu kucium, tapi hanya aku yang rasakan sendiri, nanti bila tuanmu telah tiba aku yakin kau akan kembali padanya. Kau akan jadi miliknya, tidak akan ada yang mampu temukan mu petiku, kamu akan bersembunyi dalam tawa dan air mata, tapi jangan sedih.. bau mu masih tetap ku ingat. Baik – baiklah disini bersama hujan dan kesepian, lalu aku akan kembali kersama tuanmu atau mungkin tuan yang lain. Aku akan menutup mu bila kurasa tak mampu lagi dicambuk bau mu. Aku menutupmu ketika aku tak lagi punya darah. Aku akan tetap membuka mu, sampai tuan mu datang, dan dia akan bantu aku memindahkan mu kesamping perapian yang hangat. Tapi maaf untuk sekarang aku harus sembunyikan mu... jangan menangis petiku, aku baik – baik saja...”
****
Aku kembali berlari dilorong antara hujan.
Berdiri didepan kamar ku yang sunyi dan masih dibaui kayu cheddar itu.
Aku masuk kedalam kamar ku, bersembunyi dalam selimut entah berapa lama, mungkin 18 jam tidak akan cukup. Ya aku bersembunyi dari bau kayu cheddar itu dalam tangis.
Aku ucapkan kepada selimutku, hanya dia yang tau dimana aku menyimpan peti itu, dengan tertatih aku berbisik pada selimut ku yang lembut.
“aku simpan peti untuk kee di hatiku...”
.Oval Roy.
November 2010
Monday, November 22, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)