Showing posts with label celotehan. Show all posts
Showing posts with label celotehan. Show all posts

Wednesday, February 24, 2016

Untuk Dalu, (ini Rahasia)





** If time is all i have - James Blunt 


Aku membuka lagi apa yang ku tulis enam tahun yang lalu, waktu itu aku bilang bahwa kau adalah setiap huruf dari kata yang ku tulis.

maka aku rajin sekali menulis, buku harian ku penuh dengan kamu yang manis dan kamu menyelinap tersenyum. 
dan aku menulis apapun yang kulihat agar ketika kau tidak ada disampingku kau bisa tahu apa yang aku alami. sebagaimana aku yang hobby sekali membaca apa yang kau tulis, ku bilang "membacamu seperti mendengar kau bercerita, dan aku suka"
tapi lantas kini aku sudah tak tahu apa yang mau ku tulis, semenjak kau tiada.

Dalu ku, aku sudah lelah menuliskan kepedihan, apalagi menuliskan rindu, aku sudah tidak bisa lagi meletakkan mu didalam setiap huruf dan aku berhenti menulis.
tapi pun jika aku bilang aku berhenti menulisi mu rasa-rasanya aku pun tak sanggup, aku masih mencuri-curi untuk menuliskan rindu, aku diam-diam masih menuliskan cinta.

andai kau ada disini..
kau harus lihat aku lebam-lebam. mereka disini tidak mengenali ku, mereka tidak tahu jika mata ku hitam karena banyak menangis didalam hati, hanya mata mu yang bisa..

ah, Dalu, mata mu..
mata yang sama sejak awal kita bertemu, binar itu masih kuingat kala kau duduk disamping ku dan mata amarah ku berubah teduh, asal kau tahu, mata mereka semua tidak seperti mata mu..
mata mereka kosong, seperti mata ku kini.

Dalu, ku mohon jangan marah, aku ingin sekali bilang 'aku rindu..' tapi aku tahu aku tak boleh, jadi aku tulisi saja, aku pun dilarang menulisi mu lagi, jadi ku telan-telan semuanya
... sendiri.




Untuk Dalu, delusi..
depok, 1 februari 2016

20.42

Friday, January 29, 2016

Untuk penghuni kostan orange..

dear si monyet,

soal tulis menulis aku tak lebih apik dari apa yang kau lakukan, aku ini cuma komentator sok hebat, mengkritik setiap tulisan yang ku baca tapi padahal aku tahu, aku tak seciamik kau yang menari-nari di tulisan mu.
seperti tentang Lynda yang kita ributkan kemarin, padahal sudah kau susun rapi tahunan, lalu aku pun datang sebagai pengkritik, dan ku bilang "harusnya ga gitu..., harusnya ga gini.. harusnya begini..."
ah aku macam pembual.
tapi rupanya kau masih terus memanggil ku, meminta untuk ku kritik lagi tulisan mu, entah kau dengarkan atau tidak, kau terima atau tidak. tapi lagi lagi, kau memanggilku,
i know dude, we still need someone to tell what we do, even it false or right, eksistensi. kalo ternyata kita ada.

rupanya kita sama - sama paham, bahwa aku dan kamu masih suka saling mengkoreksi, dan akan selalu butuh itu.

i miss you deeply, nyet.
sorry, i'm not always beside you..

but, koreksi aku terus nyet! biar aku tahu kalo aku (kita) tidak sendirian.
minimal ada sahabat dekat nun jauh disana yang masih butuh untuk dikritik, jujur, dalam dan berani.
agar kita ga ngerasa kosong, lagi.

dear monyet..
bicara soal 'kekosongan' yang kamu terjemahkan didalam tulisan mu... harusnya hati dan hidup kita ga kosong nyet, karena sesungguhnya hati bukan punya kita, tapi hati yang membawa kita jadi jiwa yang besar, kenapa gitu..? karena hati itu punya Tuhan , Cuma Tuhan yang bisa mengendalikan hati, memputar balikan hati, kalau ada Tuhan didalam hati, penuh maka kekosongan pun tak ada cela. aku harusnya paham, ga lari-larian lagi.


so, koreksi aku lagi nyet, biar aku tahu kalau kamu tetap ada, aku pun begitu..


see you soon ...

purwakarta, 29 Januari 2016

Thursday, November 19, 2015

Surat yang belum sampai..

Dear kamu, 


Long time no see,  long time a go...
Apa kabar kamu...? 
it’s so classic to i said like this.
I’m so sorry...
For everything that i’ve done.

Semoga 7 tahun bukan waktu yang terlalu lama untuk aku minta maaf sebesar-besarnya sama kamu.  Semoga permintaan maaf aku bukan membuka lagi luka yang disimpan rapat-rapat, atau mengoyak lagi luka yang selama ini diusahakan untuk sembuh.

Since that day, i’ve changed, and i hope also to you..

Selalu ada ruang kosong di hati saya, sesuatu yang saya simpan dan ikut kemana pun saya pergi, kamu. Dan itu adalah... saya tahu, saya telah menyakiti mu begitu dalam.
Dan... selama ini saya berusaha juga untuk menyelesaikan semua yang ada di kepala saya, di hati saya.

... kalau kamu tahu, dunia saya berubah, semenjak cerita kita selesai, bertahun-tahun saya membawa sumpah serapah mu, membawa hal yang kau bilang akan menjadi nyata untuk saya... kau bilang.... hidup saya akan berantakan.

Honestly, i got mess life living...

Dan saya terima semuanya.
Dan sekarang saya memiliki hidup terindah yang sudah seharusnya memang menjadi jalan saya, terima kasih, kamu membukakan saya jalan...  semua sudah lebih baik sekarang, saya harap kamu juga begitu.

Jika terlalu berat untuk mu dan keluarga memaafkan saya, saya dan keluarga setulusnya meminta maaf untuk mu..  semoga tak ada lagi dendam dan maki didalam hati kecil kita masing-masing.

Konyol rasanya, tapi saya harus bilang sama kamu...
Maaf untuk kekanak-kanakan saya dulu.
Sekarang mungkin kita sudah cukup dewasa untuk saling memaafkan...

Story ended  for begining another story...


Semoga bahagia selalu didalam hati mu...   



Monday, October 19, 2015

all fear of an end..

SORE tadi.
Swimming in my coffee cup. Think about something what i waiting for, Life is a rollercoaster.. make you up and give you down. You scream and you laugh, you cry and cry. Like a closer and look seems far away, but when you want to make it more, game is over and you’ll need to restart the games, it’s like my feeling for you, when i fall in you.

MALAM ini. Menuju setiap esok harinya. 

18 Oktober 2015, bukan hari ini semestinya aku tahu, sudah beberapa hari yang lalu. Aku memang tidak pernah benar-benar tahu, aku sok tahu saja.

Malam ini aku tidak bisa tidur, tidak bisa, semacam ada blackhole didalam hati dan didalam kepala, bukan mengangguku, hanya saja, aku terlalu gelisah.
Untuk sesuatu yang tidak benar-benar aku tahu, aku inginkan.
Bukannya aku sudah tahu arti kata SELESAI, setahun yang lalu (sudah setahunkah..?) atau bertahun-tahun yang lalu. It’s still hurting me.
Tarik nafas panjang. Sebelum lanjut menulis lagi,
Classic, menuliskan mu, mendoakan mu, untuk sesuatu yang lain, yang berbeda.

Kau telah berhasil merajut mimpi mu, memulai sebuah langkah baru, di atas langit kau telah menitipkan cinta, didalam hati kau telah membuat lubang besar. Tak ada yang salah, aku telah menutup 2009 dengan indah. Kau.

Times change people change, broken heart make people change, aku sudah menutup mu lagi berkali kali. Dan ini akan menjadi malam yang indah, untuk kita didalam hati masing-masing. Jika kau sempat baca ini disuatu waktu, maka ketahuilah, you’re my blackhole,  lubang besar yang menganga didalam hati, kau berhasil membuat ku merasa seperti debu didalam semesta, membuat ku belajar merendah diri, mengakui kuasa lebih besar dari sekedar galaxy... cinta. Cinta pada-Nya.

Kita tidak akan pernah bertemu lagi di terminal yang sama, tapi setidaknya kamu pernah menemani setiap jalanku, sampai pada ujungnya nanti kau tetap disana, hingga jalan ku usai..

Selamat mengikat cinta diatas Langit. Semoga Tuhan menjaga bahagia mu, mengamini setiap mimpi mu, dan menemani disetiap langkah mu.. J
Ku mohon, itu do’a ku yang terakhir..

01.24
19 Oktober 2015
Rawamangun

Thursday, June 18, 2015

Ku sempatkan waktu..


Di taman. lampu bulat depan kita mati, padahal yang lain masih menyala. 
sebatang rokok, asap mengepul di ujung bibir mu. 
kau bilang. "aku tak punya waktu" 
menghisap lagi rokok dalam-dalam. 
"kau bohong.." 
"benar.... aku sudah tidak punya waktu lagi.." 
"sebentar pun..?"
"kalau pun ada, aku tidak ingin memberikan waktu ku untuk mu.." 
aku diam. 
jantung ku seperti ditusuk belati. tapi mengapa aku tidak mati saja. 
"kenapa..?"
"sudah cukup kemarin aku hampir gila.."
"lalu sekarang, kau sudah sembuh..?" 
"iya.."
"kau hebat.."
kau diam. 
"bagaimana caranya..?" ku bilang 
"aku tak ingin jadi gila, aku tak ingin rusak.." 
"aku ingin seperti mu..." 
"kau pasti bisa..." 
lalu kau pergi. 
pergi. 
aku masih duduk sendirian di taman ini. lampunya masih mati, tak ada lagi asap rokok. 
aku seolah masih merasakan kau duduk disini, seolah jemari mu masih mengenggam jemari ku, kala lalu. 
ah aku bernostalgia. 
ini sudah usang, memang benar kau sudah tidak punya waktu, dan kita pun tak lagi punya waktu. 
kita tidak pernah membawa waktu lebih untuk kita simpan, semua yang berjalan begitu saja berlalu. 
seharusnya mungkin, aku mendoakan mu saja agar terus gila, dan kita berdua bahagia dalam gila, tapi bukankah aku artinya telah egois pada diri ku sendiri, padamu..? 
ah aku bernostalgia. 
asap masih mengebul, bukan dari ujung bibir mu, tapi dari ujung bibir ku. orang-orang berlalu lalang, memandangi ku, spertinya sedari tadi aku sudah menjadi pusat perhatian, apa benar kau pernah ada duduk disini..? 
setidaknya aku berandai jikalau kau jujur, kau telah berhasil sembuh dari kegilaan, tinggal aku sendirian, kau berhasil lenyap dan melarikan diri, setidaknya kau berhasil pergi, begitu saja. maka aku harus belajar, dua pilihannya.. belajar membiarkan mu pergi atau menyadari bahwa kau memang tidak pernah duduk disini. 
seumpama akhirnya aku berkaca, bahwa sedari tadi aku duduk sendirian. maka harusnya aku lekas sembuh sebagaimana kau. 
semoga esok, dunia tak mengenal kegilaan ini. 





"Tapi semoga besok, semua hilang." - Pesan Singkat
Adityawarman, 17 Juni 2015

Wednesday, April 8, 2015

Menutup 2009

Kamu yang telah menemani saya tumbuh.
Tumbuh dewasa, mungkin jari-jari saya, otak saya, hati saya sudah tidak tahan lagi untuk menulisi mu, seperti lalu-lalu, kamu selalu menjelma menjadi setiap huruf yang saya tulis, kamu adalah bagian dalam setiap spasi kalimat saya.

Dan sekian lama rasanya hati saya selalu menjadikan dirimu sandaran, untuk semua bahagia dan kesakitan saya, bertahun-tahun.

Dan semua kata-kata bullshit saya yang bilang; saya mengikhlaskan mu.
Semua sakit didalam hati saya karena merasa sudah melupakan mu, padahal BELUM.

Hingga malam itu, kamu tiba lagi, masih saya ingat jelas, kamu yang mengintip didalam helm mu, kamu yang memandang saya mendekati mu.
Kamu masih sama. Saya masih sama.  
Dan menu malam itu masih sama: Kopi, Roti bakar, Pemilihan Presiden, BBM, Film, Politik, Reformasi, dan Indonesia.

... Saya Bahagia bersama mu. Selalu bahagia.
Jam 4 Pagi, selepas diskusi yang panjang, obrolan yang hangat, dan senyum yang tulus kita menutup malam itu. Kamu mengantarkan saya pulang.

Saat kau sudah tidak ada lagi didepan mata saya, entah kenapa saya tidak sanggup menahan air mata saya untuk tidak mengalir.
Saya tersenyum, lalu saya menangis.

Saya menyadari banyak hal, bertahun-tahun kemarin kamu tidak pernah pergi dari dalam hati saya, saya begitu tolol membiarkan orang lain masuk kedalam hidup sementara kamu masih ada disana, dalam hati saya penuh.

Ah, padamu saya belajar banyak hal, saya tidak bisa memungkiri jika dimalam itu saya merasa menememukan lagi senyum saya yang paling tulus, di malam itu saya merasa bahwa saya masih sama seperti enam tahun yang lalu. Dan juga perasaan saya, tapi saya pun tersadar bahwa kadang ada orang yang datang didalam hidup kita tak selamanya ada disamping kita, dan kadang apa yang kita inginkan belum tentu akan kita miliki

Saya sombong bertahun-tahun kemarin, sombong dengan menjadikan mu pelarian untuk semua kesalahan saya, saya begitu angkuh mengakui bahwa saya hanya butuh kamu. Saya terlalu rapuh untuk mengakui bahwa saya tidak ingin melepaskan mu.

Saya bersembunyi. Dan saya tidak baik-baik saja.

Tapi waktu membuat saya belajar, apa yang bisa kita miliki dan tidak. Apa yang harus kita relakan, memang tak mudah tapi semua keluar, saya tidak bisa lagi bicara, malam itu saya hanya menangis.

Saya hanya menangis sambil berandai-andai, andai saya adalah perempuan yang kamu pilih, andai saya mampu berjuang lagi dan kamu akan memperjuangkan saya.
Malam itu saya pun tersadar, kamu sudah benar-benar pergi.

Tapi itu semua tidak ada artinya, malam itu menjawab semua hal, saya rindu diri saya yang lalu, saya rindu tawa saya ketika bersama mu, dan saya telah keterlaluan mencintaimu, maka tiba-tiba saya berhenti. saya malu pada diri saya, yang bahkan lebbih mencintaimu melebihi apapun. maka saya bersujud untuk Tuhan saya, mengakui malu saya, mengakui sombong saya. 
Dan menyadari bahwa Tuhan menyayangi saya dengan memberikan mu didalam hidup saya, agar kamu mengantarkan saya pada banyak hal. 
  
Kamu masih sama dimata saya, saya harap kamu pun merasakan hal yang sama juga, tapi pada akhirnya, saya harus sadar dan saya telah menyadari semua hal yang terjadi bertahun-tahun ini. Saya sadar, waktu saya dengan mu telah usai.

Cinta adalah persoalan kesadaran. menerima setiap cerita yang ada dihidup saya, termasuk kamu. 

Berbahagaialah atas hidup mu, terima kasih telah menyisipkan saya disebagian kecil hati mu, dan terima kasih telah menemani hari-hari saya.

Sampai jumpa lagi, diatas cangkir kopi kita untuk saling berbicara kegelisahan yang ada diotak kita.

Malam itu, saya menyadari artinya keikhlasaan
Malam itu, saya menyadari artinya cinta.
Malam itu, saya mengenal lagi Tuhan. 

Terima kasih untuk malam itu, teman ku yang baik. 
dan Tuhan begitu baik menutup cerita kita dengan indah. 

...aku kini sudah bisa tersenyum saat mengingat mu.



Yogyakarta, 08 April 2015

(tersenyum mengingat lebak bulus – lenteng agung, malam itu)

Monday, April 6, 2015

Jam Lima Sore.

Ulangi aku, satu hari lagi. 



16.45

Lekas, kau mencium kening ku terburu-buru.  Aku masih lekat  menatap mata mu, kau sesegera mungkin meraih kopi mu dari meja didepan ku. Bahkan kopi pun kau ambil, Hei, aku telah mencampur sesondok rindu ku didalam sana. Semoga kau selalu ingat. Gerimis masih merintik deras, aku menahan pelan-pelan agar air di mata ku tidak menggenang.

“kau baru saja tiba”  ku bilang

Kau diam saja.
Lima menit kita lalui dalam diam saja. Tapi aku sibuk didalam kepala ku. Makanya bibir ku diam saja.
Aku sudah tahu, kau harus cepat-cepat pergi, tapi aku belum bisa terima, setidaknya untuk hari ini.
Jangan genggam tangan ku, cepat-cepat pergi, sebelum aku menghancurkan semuanya.
Mengancurkan hidup mu,  meleburkan alur hidupmu.
Biarkan aku ada disini sendiri saja. Meyakini yang aku percaya, tentang hati yang aku tak tahu sampai dimana akhirnya tujuan kita, tujuan ku.

“Maaf aku baru tiba dan harus pergi lagi..”
Stasiun ini pun terasa sepi, Rel besi tetibaan berkarat, suara deru lokomotif berdenyit antara hujan.

Tiba-tiba, kau pun lenyap. Dibawa kereta sore melebur dengan asap seolah tanpa sisa, kau hilang, membuatku tahu bahwa kau seperti tak pernah ada. Kau kembali bersembunyi di kereta pukul 17.00 dan aku tetap saja percaya, kau tidak akan pergi.



Pukul 17.00
Yogyakarta, 6 April 2015



Jangan lupa membawa rindu saat kau berkemas pergi..

Sebuah Sunrise.

Di sebuah kota, kala kita larut.  Berjalan setapak, bersama, tanpa terasa seluruh cerita memaksa untuk jadi kenangan.

Di antara pasir, ombak yang berganti, sorot lampu jauh motor dan mobil, udara menyengat, bau kopi, asap rokok, hutan pinus, padang rumput, danau yang tenang, kerlip binar liar kota, rintik hujan, tatapan mu... cinta buta.

Mata ku jatuh didalam pandang mu. Menatap mu dari kejauhan.

Tuhan mungkin ingin bilang padaku : Ini yang disebut bahagia. Tapi menjauhlah, karena ini bukan bahagiamu.
Maka, demi seluruh Malaikat, aku ingin melepaskan hati, hati yang begitu kuat menggenggam erat, bahagia yang begitu hangat.

Sunrise itu. masih terbit, kita sama-sama gelap, lalu menjadi makin hangat dan terik menghantarkan mata kita tersadar.

Kau, adalah yang terbaik. Seperti dalam mencintai, mengikhlaskan adalah yang paling baik, ketika kau tahu; yang kau genggam adalah bukan hak mu, maka menjauhlah.



Yogyakarta, 22 Maret 2015

Selamat tidur, kau... 

Mirip Gila

Ruangan ini sangat dingin, samar dibalik proyektor, ku lihat wajah mu, wajah yang menyebalkan makin mengeras di ingatan. 
Aku mirip gila. 


Mungkin saja, dunia ini sudah gila. 
Seperti kita yang mirip gila. 
Atau kita adalah bagian paling gila dari kegilaan manusia. 
Atau kita adalah cerita paling normal dari kegilaan dunia. 


Aku melipat memori dibalik jaket hijau. Udara dingin, perjamuan malam, semua orang makan daging yang dibakar, ukuran besar, harum menyeruak, tertawa cantik penuh pesona didalam bibir. Tapi aku melipat memori, semua yang memutar, kala sakit ku kambuh, rindu. 

Entah sedang dimana kau berada, matamu tak sedetik pun berlari dari ponselmu. Katamu; bagaimana bisa aku melupakan orang yang membuat ku jatuh cinta dua kali. Kau senyum sendiri. Kau mirip gila. 


Rindu itu bagai racun yang tepat menyerangku, membalikan isi hati ku, mengoyahkan pikiran ku dan sedetik ku sadari, rindu terlalu lelah mampir didalam selaput otak ku, rindu terlalu lelah menyiksa ku untuk terus-terusan melankolis. 

Kamu pun tiba, dengan ransel hitam mu, duduk disampingku, meletakkan ransel mu dibawah kursi mu. 

"Kau terlambat" ku bilang 
"Ayo kita pergi dari sini" kata mu berbisik. 

Aku pun melangkah keluar, menjauhi mereka, tanpa berpamitan. Kau mengikuti ku dari belakang. 


"Apa kabar mu" kau bilang 
"Great..." 
Kau tersenyum. 
Mengambil sebatang rokok mu, aku merebut rokok dari jari tangan mu, kau tertawa. 
"Tak berubah" 
"Tak ada yang harus berubah..." Ku bilang
Apa sudah jadi kebiasaan jika mencintai itu jadi menggilai. Seperti siang ini; aku sudah gila karena mencintaimu. Atau cinta adalah definisi dari kegilaan yang dianggap normal.  
Malam ini semakin dingin, kau. 
Aku dan kau di teras restaurant, pengunjung masuk lalu beberapa keluar, wajah mereka bahagia, aku tak yakin mereka benar-benar lapar, mereka hanya menikmati suasana makanan mahal ini. Tata ruang yang romantis, lawas. Romantis kini mahal harganya, saat semua sudah berlalu dan menjadi lawas. 
Bukankah seperti itu hakikatnya kenangan? 

"Aku sudah dengar semuanya" 
"Apa ada bagian yang tertinggal...?" 
Kau coba menjelaskan 

"Tidak" 
Aku menghabiskan rokok ku, yang sebenarnya adalah rokok mu.

Rindu membuat kita pun makin sama - sama mirip gila.


Sunday, March 22, 2015

Kamu adalah lelaki yang baik.




Sebuah Sunrise.

Di sebuah kota, kala kita larut.  Berjalan setapak, bersama, tanpa terasa seluruh cerita memaksa untuk jadi kenangan.

Di antara pasir, ombak yang berganti, sorot lampu jauh motor dan mobil, udara menyengat, bau kopi, asap rokok, hutan pinus, padang rumput, danau yang tenang, kerlip binar liar kota, rintik hujan, tatapan mu... cinta buta.

Mata ku jatuh didalam pandang mu. Menatap mu dari kejauhan.

Tuhan mungkin ingin bilang padaku : Ini yang disebut bahagia. Tapi menjauhlah, karena ini bukan bahagiamu.
Maka, demi seluruh Malaikat, aku ingin melepaskan hati, hati yang begitu kuat menggenggam erat, bahagia yang begitu hangat.

Sunrise itu. masih terbit, kita sama-sama gelap, lalu menjadi makin hangat dan terik menghantarkan mata kita tersadar.

Kau, adalah yang terbaik. Seperti dalam mencintai, mengikhlaskan adalah yang paling baik, ketika kau tahu; yang kau genggam adalah bukan hak mu, maka menjauhlah.



Yogyakarta, 22 Maret 2015

Selamat tidur, kau... 

Thursday, October 9, 2014

ke-24!


Maaf saya bukan anak perempuan yang baik
saya bukan cucu perempuan yang baik
saya bukan adik perempuan yang baik
saya bukan keponakan yang baik
saya bukan kakak sepupu yang baik
saya bukan adik sepupu yang baik
saya bukan tante yang baik
saya bukan sahabat yang baik
saya bukan teman yang baik
saya bukan saudara yg baik
saya bukan teman serumah yang baik
saya bukan anggota komunitas yang baik
saya bukan murid yang baik
saya bukan mahasiswa yang baik
saya bukan pegawai yang baik
saya bukan rekan kerja yang baik
saya bukan mantan pacar yang baik
saya bukan gebetan yang baik
saya bukan pacar yang baik
Maaf saya tidak baik dalam memerankan peran itu semua sebagai seorang manusia dan seorang anak perempuan papa yang harusnya menjadi perempuan baik-baik.

Selamat datang tahun ke-24 memerankan peran ini!!



Tuesday, March 25, 2014

Rasa Do'a Asa Sentuh : Aku.



Sedang apa kau disana…?
Telah sampaikah apa yang sudah aku kirim padamu..? dan kau menjawab.. apa yang telah kau kirim..

“Do’a dan kecup jauh…”
coba pejamkan mata mu sebentar, dengarkan aku berbisik dibalik huruf yang berjejer itu. 
Aku pun memejamkan mata ku, disini dimana ada hangat yang kau kecup, karena paling dekat dengan tanah, paling dekat dengan do’a. Kening. Seperti yang pernah kau katakan, untuk ku yang akan kau tinggal sendiri dan aku ingin tak lagi takut.



Dan aku menunggu.
Aku menunggu mu, disini…

Dan kau bilang, tak perlu lah menunggu mu, dan aku dalam persepsi ku, sayang, setidaknya aku telah mengusahakan.

Dan rindu itu tidak pernah bohong, apa kau tak lelah bicara dan bertanya tentang tulus..? bukankah ketulusan adalah hal yang tak perlu ditanya dan tak bisa dijawab.

Ada tiga kesatuan dalam diri manusia; Otak, Hati dan Tubuh. aku takut jika aku harus tahu bahwa mungkin aku tidak ada didalam bagian manapun, dan kau memastikan lagi untuk menyertakan Kehidupan didalam hal keempat, dan kata mu aku sudah ada disana, dalam hidup mu.

Dan kita berlari-lari kecil ditepian pantai, menyisir pasir dikala ombak datang, pantai yang selalu ingin kita berdua datangi…
“aku bingung…”
“aku juga bingung..”
“aku harus bagaimana..?”
“aku pun harus bagaimana.. hhmm.. bagaimana jika kita berpegangan..”
“apa yang harus ku pegang…”
“tangan ku, genggaman ku..”
“jadi kita bergandengan, jangan kau lepas…”
“bagaimana jika suatu hari nanti aku lepaskan.. apa yang akan terjadi dengan tangan mu…?
“tangan ku tetap disini menunggu lagi kau genggam…”

Tapi aku tak ingin seperti pasir yang kau genggam terlalu erat, Sayang…
Aku tak ingin hanya menjadi butir…  seperti yang kau katakan tentang pasir.. tidak perlu ada yang meluap-tidak ada yang perlu tergesa..
Karena masing-masing kita telah disini…

Dan mimpi menjembatani ku tentang mencintai mu…
Jika aku tak bermimpi maka tentu aku tak akan bangun bersama mu, atas hidup ku hari ini.
Jika kelak kau tidak lagi sehangat dan selembut ini lagi, sekiranya kita pernah saling tenggelam didalam pelukan hangat.  

Dan semoga kita akan tetap saling menjaga, dalam ucap mu memintaku jaga diri.. dan bait do’a ku agar kau menjaga hati mu..

Karena, semoga, kelak akan datang untuk kita; Takdir. 






Merayakan sentuhan mu di 19 September 2013.... 

Thursday, February 20, 2014

Jum'at Besok Sabtu


Hari ini, bintang-bintang jumat sudah pecah belah, siapa janji akan mimpi-mimpi yang bisa kembali. Maka tidurlah, bersama dewi-dewi mu dalam pelukan dewa-dewa, seperti yang mereka entah siapa selalu bilang, mengaku jadi biang kehidupan. Dunia ini sudah tak punya pandora, harap-harap yang secuil itu kini berubah jadi karma. 
Bagaimana bisa Baik dan Kebaikan tak lagi jadi satu paket? 
Mereka tak lagi seperti dada ayam goreng tepung dan segelas dingin cola yang dibuat satu harga! 
Bukan lagi sepasang kekasih perempuan dan laki-laki, lihat saja sudah banyak homoseksual yang lebih bahagia diatas pura-pura, bukan karena saling melengkapi, tapi saling mengisi. 
Kebaikan bukan lagi imbas dari prilaku baik, melainkan hanya tameng berupa kain lebar menutupi bagian dada menyembul. 
Ah, absurd. Besok atau hari ini pun kita akan sama terpenjara. Terpenjara pada kebahagian dan kebagian diri sendiri. Orang-orang akan bertamu, berebut menjadi raja di rumah orang lain, hidup orang lain. 
Seperti menulis fiksi, akan lebih mudah dari menulis esai, niscaya melihat khayal lebih nikmat dibanding melihat fakta. Bukankah kita semua sudah seperti itu? 
Jendela-jendela menawarkan cita-cita. 
Didepan mu terbentang luas harap, cerita tentang horus, osiris, rama, sinta, kurawa, jaka sembung, jaka tingkir, tujuh bidadari. Tapi apakah diri mu, kita, aku akan jadi cerita kelak? 
Tak ubahnya hidup kita hanya mitos keresahan dari hidup orang lain,. 
"Aku akan begini" 
"Aku tak mau seperti itu" 
Lihat saja orang-orang sudah semakin tak mampu menjabarkan rasa, hakikatnya perasaan sudah tidak lagi orisinil. 
Yang terjadi pada ku juga terjadi padanya, atau sebaliknya. 
Tuhan, katanya memberi manusia satu kesempatan untuk hidup. 
Ada yang suka menulis hidup dengan indah, makian, sumpahan, dan keikhlasan. 
Ada yang menikmati dengan melukis alam, menggambarkan cinta, menjahit luka 
Ada yang suka menari-nari dan berdendang dengan musik kepura-puraan. 
Lalu kau yang mana? Aku yang mana? 
Karena Tuhan tidak ciptakan bagian bahagia untuk Sang Peratap.


January 24, 2014 at 6:55pm

Tuesday, September 17, 2013

Linimasa..


Dan runtuh saat tiba ego yang larut, jalan yang selama ini dijejaki sirna, semua yang digenggam 
akan dilepaskan, demi yang semua orang tau, cinta. Yang tak mampu dijelaskan….

Mencari jejak didalam labirin, banyak bersimpangan lalu akan tersasar, aku butuh selembar arah untuk tujuan ku, hingga aku akan berhenti. Meskipun aku tak tahu lagi sampai dimana akan berhenti, dengan peta yang kau buat dengan pena mu kah?

Entah ini namanya candu atau memang arah ku, ku nikmati saja, pahitnya sebagaimana kopi yang terus kita cicipi selama kita berbincang. Kopi ku yang pahit dan kau dengan cangkir besar kopi susu … dan kita akan berhenti hingga canggir kopi keberapa?

Ketika kita memutuskan untuk berhenti dan telah runtuh…

Jalan ini bukan lagi soal kepasrahan, tapi ada hal yang harus diselesaikan dengan lembut, sabar itu tak ada akhirnya bukan? Seperti ada saatnya melepas dan saatnya lagi mempertahankan…
Dan serpihan cerita itu bukan saja tentang baju kotor yang menumpuk lantas dicuci hingga bisa kembali dipakai, ada yang memang menumpuk dan tertahan, hingga akhirnya semua telah meluap keluar, rasa. Hingga pada serpihan terakhir semua terasa kosong dan lapang, sampai akan tiba saatnya serpihan – serpihan itu kembali lagi dengan cerita yang berbeda. Siklus.Untuk semua yang tertahan dan meluap tidak akan pernah berakhir.

Kita berharap agar sesuatu yang positif mengikuti kemana serpihan kita hingga akhirnya kebaikan yang kita harapkan juga mengikuti apa yang selama ini kita fikir sebagai langkah…
Lalu akan ada pertanyaan, bagaimana dengan rasa ?

Topeng dijadikan kambing hitam, padahal sesungguhnya ini bukan tentang beradegan pada logika dan menyembunyikan rasa tapi ini hanyalah apa yang terlihat dan tak terlihat.

Kata Terserah, bukan berarti menyerah hanya kadang keadaan terlalu naïf untuk dipaksa.

Dan ingatkah kamu pada bagian dimana kau meminta ku mencatat tentang risau mu pada kiri dan kau memintaku di kanan…?

Jika cinta itu dekat di hati, bersembunyi di detak jantung, dan sepasang kekasih bagai rusuk yang saling melindungi, bukankah lebih baik kita sama berada menjadi rusuk, daripada meributkan siapa yang harus dikepala atau menjadi ekor..?

Dan peluk adalah sebuah pesan tentang hangat. Yang dibaca tanpa di terjemahi…. Hingga aku menahan mu dalam diam. Seperti rindu. Dan aku menahan mu dalam diam-diam, melepasmu dalam diam-diam, karena pada dasarnya apa yang kita jalani adalah, diam.


Untuk semua Moment, hidup adalah serpihan momentum, buat apa berusaha melupakan jika pernah begitu diingat….





kolaborasi dalam garis masa bersama @veebeeh ....