Showing posts with label Resah Berkisah. Show all posts
Showing posts with label Resah Berkisah. Show all posts

Sunday, April 9, 2017

Aksara Lara yang Resah Berkisah





Empat hati merayakan patah hati
Melalui resah kami berkisah 
karena menulisimu bukan perkara gelisah 
hanya rindu beraksara lara ...








Aku ini punya satu hati 
Lalu kamu berikan satu cinta 
Untuk satu keyakinan : 
Baginya cintanya, bagi kami cinta kami.. 











Dengan rindu,
Oval Roy (Nunkyovale
 Nusa Kalimasada (Nusaseom)
Calvin Moniaga (Calvin.moniaga
Shandy Putra (Puisinema



Keindahan Dunia



I

Sebatas langit menggaris bumi
Sayap-sayap putih itu menerobos cakrawala

Dua kali dalam sekali fajar
Emas menjadi warna pelita serta prahara

Andaikan bunga meranum
Aku isyaratkan indahmu di bawah sinaran fajar
Di antara gemericik air
Di sela-sela kaki serangga
Serta di pangkuan ibu Bumi

Di pangkuannya aku terbaring
Memejam hati tersakiti untuk diobati



II

Memori pada sore itu
Membuatku lupa diri untuk sesaat

Merasakan nikmatnya hidup

Takutnya kematian

Ingin rasanya kuhentikan… waktu

Segalanya berubah saat aku sadar akan realita hidup ini
Segalanya menjadi pertanyaan, kisah pelipur lara
Hanya berada di dunia imajinasiku semata

Impian yang menjadi kenyataan
Akan sulit untuk dibedakan





III

Tuhan menciptakan dunia
Lengkap dengan senja dan segala keindahannya

Lalu

Tuhan menciptakan dia

Perempuan dengan senyum yang kuanggap sebagai surga

Genap melengkapi segala yang ganjil
Cukup menutupi segala yang kurang

Hingga aku tergoda untuk memakan buah yang akhirnya disebut sebagai Amarah
Lalu Tuhan mengutukku
Serta mengambil dia
Satu-satunya pelita yang tersisa

Aku Berdoa
Tuhan, aku belum butuh segala keindahanmu
Aku hanya butuh dia,
itu saja.




IV

Dan aku terbang
Ke dalam pelukan kau yang mengetuk
Di pintu itu ada cinta yang ingin disambut
Aku menarik selimut

Mataku yang kalut

Jadi, dunia tak lagi sama ketika aku bermimpi
Kau yang selalu datang saat aku terpejam

Pura-pura inginkanku
Pura-pura jatuh cinta

Kala itu, dunia jadi tak indah
Saat kau sadar, berhenti mabuk

Tak lagi panggil – panggil namaku minta kupeluk

Di asap itu, kita dilarang bercinta
Lalu kita bercerita ;
Tentang sungai
Tentang pantai
Tentang langit yang kehilangan bintang

Bumi yang mabuk
Aku yang belum terkantuk
Dan rahasia suntuk
:
bahwa aku tak butuh dunia
karena denganmu ;
luka pun seolah menggoda




Di Matamu



I

Suatu yang indah  dari surga
Tampak  menghampiriku

kesulitan
kebahagian
ketakutan

Semuanya terlihat jelas dibalik retina

Ungkapkanlah semuanya ;
Bahu ini siap untuk menjadi sandaranmu

Semoga kelak kau bisa mengerti
Pesan yang kusampaikan  melalui matamu




II

Februari kemarin
Aku menyimpan senyum yang tabah
Doa yang dilumat habis di bibir tipis

Bungkam tak ingin ada yang tahu tentang rahasia
Tapi bisa kau lihat di mataku
Kala kubersandar pada aksara yang tak berani
Tak tersadar
Ada debar
Lalu gemetar

Aku ingin kau melihat mataku
Mata yang penuh marah kala kau memaki
;

Mengapa ada cinta yang begitu rumit
Kita yang berkelit

Entah berapa kali kulempar binar
Entah berapa detik kubuang untuk menatap

Sampai kita yang tak punya nyali ;
Bertemu lugu di mata mu




III

Pada matamu rinduku tinggal
Dan membangun gubuk sederhana
Yang kita sepakati sebagai harapan

Hujan deras dan doa ibu rajin memberi pupuk
Pada pohon cinta yang kita tanam di beranda kenangan

Namun sayang,
Engkau mencintaiku sebutuhnya
Aku mencintaimu seutuhnya




IV

Seraya aku berbaring
Kupandang kelopak mata itu
Terpejam hangat

Seraya kelopak itu membuka
Kemudian pagi hadir
Dan langsung menyusup ke jiwaku

Melalui matanya
Tersimpan rahasia semesta
Memikat alam pikiranku
Memenjarakan sukmaku

Dengan sorot kerinduan
Kasih hadir di matanya




Mematah Hati



I

Bisa patah karena ingkar
Lalu senyummu..
Mematah rindu


Kala lalu
Kau menerobos kelabu
Menghantar kenang

Yang aku titipkan di sudut jarak
Ada yang lupa ;
Melupa kau




II

Raung ombak menghantam karang
Tak bergeming
Selain mendengar bisik-bisik kesedihan

Lirih–lirih merana menyelinap
Seiring air surut

Pemuda itu tak bergeming
Bahkan dengan apa yang diterpanya malam itu

Sayang, tak kulihat jiwanya hadir kala itu

Kesendirian mematah hati
Dan membuat aksara cinta lari terbirit-birit
Menjauh dari raga kosong yang menggema
Menyayat harapannya
Biarkan air surut



III

Jika bukan karena panah matamu
Apalagi yang dengan telak mampu mematahkan segala yang tabah dalam dadaku

Perihal segala yang fana ini, Anisa

Doa menanam rindu, agar kelak kita bertemu
Cinta tak perlu sibuk memesan menu untuk kau dan aku nikmati

Di dalam ruangan kelam itu
Hanya ada kita bertiga
Aku
Kamu
Dan segala kenangmu tentang dia.




IV

Di kala malam
Yang menjerit
Yang merintih
Dan menangis

Tragedi yang sulit untuk diterima
Dan dimengerti oleh hati

Ketulusan cinta tidak lagi terlihat
Di dalam masa depan

Cinta yang dibangun dengan kokoh
Tidak lagi berpijar dimalam ini
Nurani yang kubanggakan
Memiliki rasa yang mematahkan hati







Mengemis Rasa



I

Kau pernah cerita padaku;
Tentang hatimu yang lebam–lebam
Lalu
Kau kehilangan; dirimu

Kau juga menceritakan padaku;
Bagaimana kau membuang rindu jauh–jauh
Tak semampu itu
Seolah kita puguh

Dan kita berjumpa di ujung dermaga
Di sungai yang tenang dengan kerlipan malam

Kau hantarkan aku cerita tentang kunang–kunang
Membawakan cahaya untuk orang-orang yang pilu
Cinta yang tak berani jauh dari kenang

Lalu kau bersandar
Pada pelukku
Teduh dalam kornea mataku

Apakah hati kita yang sama sakit ini tak boleh sembuh?
Apakah jantung yang berdegup ini tak mampu kau kecup?

Dan kita pun berdiam
Merengut
Mencari cinta yang tak berani dibawa pulang

Cinta yang mengiba untuk dihilangkan
Cinta yang tak bisa sembarang datang

Sayang,
Bisakah kita pura-pura tak risau
Nikmati saja bagaimana kulitmu menempel di kulitku
Jalanmu di jalanku
Tanpa harus kehilangan
Tanpa lara yang diagungkan

Dan di ujung dermaga
Kita yang menyimpan rapat cerita
Mengemis rasa yang baru
Di dalam darah tempat jantung sebagai persinggahan

Yang meminta kau terus menjadi teman
;
temaniku




II

Rasa sayang terhadap dirimu
Membuatku bisa menjadi seperti ini
Melalui doa, senyum dan cinta kasihmu
Membuatku takkan bisa ke lain hati

Hari–hari bersamamu adalah hari terindah selama aku bernapas

Seketika semua itu sirna
Sakit ini kian mendalam dan meluas
Dan alkohol terus menhujani luka ini
Sanubari tidak lagi mengenal rasa

Segala yang ada pada diriku pernah kujatuhkan untuk dirimu
Kini rasa sakit dan benci yang kuhadapi
Melebihi rasa sayang itu

Kesatria yang telah dilucuti baju besinya  
Terbangun perlahan dari rasa benci yang didapati

Tolong jangan mengemis rasa ini
Karena rasa ini hanya untukmu  






III


Ingin kuminta kembali
Rasa yang telah kuberikan
Dan kukembalikan rasa yang telah kau ingkari

Tak terbilang purnama yang kulewati
Dengan langkah tertatih-tatih
Menengadahkan kedua telapak tanganku
Berdoa serta meminta

Yang telah kuberi hanya kupinta
Jangan biarkan gemetar tanganku
Sampai tak sanggup menggenggam
Rasa yang masih kusimpan
Kembalikan kasih….




IV

Dia memberimu segala yang mampu membuatmu tertawa menikmati dunia

Aku, tertatih-tatih merakit perahu sederhana untuk kau dan aku tumpangi
Mengarungi samudera duka
Dia menghadirkan kesenangan yang sanggup membuat hari gelapmu menjadi merona

Aku, terseok-seok melewati ilalang untuk sampai pada matamu
Lalu dia, mengirimimu apa saja yang mampu membuatmu tersipu di hadapan segala yang fana

Sementara aku, terbata-bata merapalkan doa agar senantiasa kau bahagia
Hingga akhirnya dia memaksa ragamu
Sementara aku, berlutut mengemis cinta yang mungkin masih tersisa untuk membuatku bertahan
Dari panasnya kota dan kejamnya realita