Monday, February 7, 2011

#Dearpapa Project...

Celotehan Si Bayi di perut mama….


Dear Papa,
Selamat pagi, siang, sore dan malam papa tersayang…
Aku tau harus tulis apa disini karena aku tidak miliki memori apapun tentang papa, aku pun tidak pernah rasakan senyum dan sentuhan papa yang begitu hangat. Tapi aku tau papa disana pasti menjaga ku, sebagaimana Tuhan menjaga mu. 

Papa. Aku sudah 20 tahun sekarang. Sudah kepala dua pa, tak terasa ya.. aku pun merasa begitu.. tak ingin cepat jadi dewasa, masih ingin bermain tak kenal lelah… tapi ternyata aku sudah harus berubah, jadi lebih dewasa katanya.. atau menjadi lebih sok tahu. Tak tahu lah. Aku cuma jadi aku saja.
20 tahun yang lalu juga papa pulang, ke rumah abadi-Mu..
Tinggalkan aku, mama, mba bunga, mas diba dalam lelapmu.. 20 tahun sudah berlalu.. tapi tak ada satu pun kenangan indah tentang dirimu selain cerita mama selalu menceritakan itu – itu saja.

Papa adalah penulis naskah teater
Papa adalah seorang guru bahasa inggris
Papa banyak fansnya ( mama selalu cemburu setiap bercerita tentang fans papa, mulai dari kepala sekolah sampai murid)
Papa ganteng sekali, kalau mama bilang papa mirip Fachri Albar
Papa dan Mama cinlok diperjalanan Jakarta – Jogja 
Papa “Si Doel” dikampung kita, Jeruk Purut
Papa dan Mama Kawin Lari karena buya dan nyai tidak izinikan mama dan papa menikah..
Papa sayang mba bunga meski mba bunga anak tiri papa
Papa selalu bilang kalo “Hantu Jeruk Purut” itu bohong supaya mama ga takut kalau pulang malam sendiri
Papa tidak pernah marah paling kalau ga mau shalat baru papa marah
Papa itu berani, penyayang dan humoris
Papa bahagia sekali waktu tahu ternyata mama mengandung lagi setelah kelahiran mas diba
Papa menginginkan anak perempuan meski perhitungan bidan laki – laki
Papa sedih dan tidak mau ke rumah sakit saat mama ajak ke rumah sakit, alasannya takut mama lelah karena kehamilan mama masih muda ( itu aku pa..)
Saat dirawat di RS Fatmawati papa tidak izinkan mama masuk ke ruang perawatan karena papa tak ingin bayi dalam kandungan mama tertular sakit papa
Papa menangis saat menitipkan bayi dalam kandungan mama kepada Buya (kakek) sepertinya papa tahu bila papa akan pergi ya..
Papa bilang papa sayang sekali pada bayi kecil diperut mama
Dan papa pun pergi… tinggalkan bayi dalam kandungan mama sambil memegang perut mama.
(tuh kan pa.. aku jadi menangis lagi..)


Itu aku pa.. akhirnya aku lahir. mama beri aku nama “Naufal Royani Putri”
Ada nama mu disana… aku telah lahir dengan cerita – cerita tentang mu yang selalu mama ceritakan tanpa bosan, dan aku pun tak pernah bosan mendengarnya.
Setelah 20 tahun berlalu semua berubah pa.. aku mulai merasakan sakit, sakit karena hidup, tanpa papa. Aku kadang memaki Tuhan karena tak izinkan sedetik pun aku berjumpa dengan mu, aku juga ingin rasakan bagaimana rasanya dicium keningnya oleh ayahnya. Aku pun kadang memaki Tuhan kenapa ada yang sakiti aku.. Mama sibuk dengan pekerjaannya, mba bunga dan mas diba sudah tidak peduli lagi dengan aku. Tidak ada yang menjagaku, membelaku, menyelamatkan aku dari kejamnya manusia, aku dibiarkan begitu saja sendiri.

Hingga akhirnya aku buat sendiri sosok imaji tentang mu.  
Papa adalah pria yang berwibawa..
Papa adalah lelaki yang cerdas…
Suami yang mencintai mama penuh ketulusan…
Ayah yang lembut dan penuh kasih sayang….

Itu imaji ku… pengandaian aku tentang sosok ayah…

Maafkan aku papa, karena telah memaki mu. Maafkan aku atas marah ku pada Tuhan yang justru sangat menyayangimu.
Maafkan aku papa.. kadang aku rindu hadirmu ketika aku, mama, mba bunga dan mas diba sudah tak mampu lagi mengambil keputusan ketika kami telah tertutup ego masing – masing, aku merindukan fungsi ayah disitu dan menginginkan sosok itu, karena sering kali kami tidak memiliki titik temu dan akhirnya kami pun terpecah pa.. jangan sedih ya pa dengan keadaan ini, aku yakin ini hanya sementara sampai akhirnya kami semua kembali lagi disatu rumah, bersama lagi dan harusnya papa ada untuk kita.

Tapi apa papa tau. Justru karena keadaan ini, kesepian ini, semua marah dan kerinduan yang tak mampu aku kendalikan buat aku menjadi seorang perempuan yang mampu melangkah didasar gelap, buat aku berani hunuskan pedang diatas awan. Aku jadi tau untuk apa hidup dan buat apa hidup semua karena aku belajar dari kematian.
Papa tak perlu seperti ayah yang lain, pulang kerja bawakan aku sekotak martabak, tidak perlu . papa cukup diam dan melihat bagaimana aku mencari sendiri sekarung beras untuk mama
Papa tidak perlu naik ke atap untuk perbaiki gentengnya rusak, papa cukup tidur yang nyenyak dan saksikan aku bangunkan istana untuk keluarga kita
Papa tidak perlu temani aku minum kopi atau menonton bola, aku biarkan papa bersenda gurau bersama malaikat dan bidadari surga sambil lihat aku yang sedang ikuti ujian dari Tuhan dengan rencananya agar nanti kita bisa berkumpul bersama di Surga-Nya.
Tunggu aku pa, aku sedang mencari tiketnya sekarang…

Papa ku yang terhebat…
Maaf aku belum sempat mengunjungi perisirahatan terakhirmu.. makam mu yang nyaman, meski ujung nusantara sudah ku singgahi tapi kenapa untuk ke makam mu belum ada waktu yang tepat, maafkan aku papa.
Doa untuk mu seakan tak cukup untuk lampiaskan rindu ini, aku rindu, rindu sekali papa… aku besok akan kesana pa, bersihkan rumput dipusara mu yang mulai meninggi, bersihkan pusara mu dari daun – daun yang berguguran, taburkan bunga – bunga yang harum untuk makam mu agar malaikat senantiasa kunjungi pusara mu taburkan rahmat dan doa untuk mu..

Sebelum aku beranjak ke 20t ahun aku sering sekali berandai tentang hadirmu, tapi kurasa kini bukan lagi saatnya karena aku tau, mungkin jasadmu tak pernah disisiku tapi hatimu seutuhnya milikku,kau memang belum pernah mencium keningku dan peluk erat tubuhku… tapi aku tau kau sudah melekat erat pada nurani ku, papa telah mengisi ruang pemikiranku, papa telah mengalir dialiran darah ku.

Aku sangat tau, meski papa tidak menghapus air mataku saat ku menangis tapi aku tahu hati papa pun menangis ketika aku sedih dan rasakan luka dan papa akan memelukku dengan pelukan terhangat dari seluruh pelukan yang pernah aku rasakan…
Papa kini bersama cerita, cerita tentang papa, cerita papa yang lebih indah bersama Tuhan.

Terima kasih papa untuk cinta yang ditransfer dari alam sana
Terima kasih papa untuk kekuatan yang aku curi dari cerita tentang mu…
Terima kasih papa untuk mimpi yang selalu hadir untuk bangunkan aku dari luka, malam ini silahkan datang lagi pa, akan aku ceritakan lagi tentang aku dan dunia ku..

Aku tunggu papa nanti malam ketika lelap mulai datang….

Terima kasih papa untuk seluruh duniaku…

Terima kasih untuk cerita pendek tentang hidup mu pa, memang tak ada cerita yang lain tentang dirimu, tapi aku tau satu hal. Papa adalah ayah terbaik dan akan selalu menjadi pria terbaik didalam hidupku…

I Love You, Mr. Royani Achmad




Dari aku.. si bayi dalam perut mama. Naufal Royani Putri.
16.33
Senin, 07 Februari 2011

@ovalroy 

Tentang Perempuan #1

Lelaki diciptakan untuk menjaga perempuannya, perempuan yang memiliki indera rasa lebih peka. Tapi toh aku perempuan tau bahwa lelaki pun miliki rasa juga, biarpun kadang mereka terbelenggu oleh ego dan stigma kekuatan yang sudah dihadirkan semenjak Tuhan terinspirasi untuk menghadirkan hawa. Aku hanya coba mengerti. Bukan hawa untuk adam tapi adam untuk hawa. Bila saja dulu ada wanita lain selain hawa pastinya adam pun bisa saja berpaling lalu mencari kekuasaan penuh dan kekuatan pada seorang wanita, sayangnya Tuhan hanya ciptakan satu perempuan, hawa. Agar adam belajar tentang kesetiaan! Dan kamu, manusia penerus adam belajar mencintai dan menjaga yang ada dihadapmu.. hawa sungguh perempuan paling beruntung sedunia. Bahkan sebelum Tuhan ciptakan dunia, hawa pun akan jadi wanita yang paling beruntung! Tapi ya memang, adam untuk hawa.

Lelaki beristri itu untuk istrinya, lelaki beristri itu untuk istri keduanya, lelaki beristri itu untuk istri ketiganya. Begitu seterusnya hingga seharusnya, bukan lagi istri untuk suaminya. Tuhan berikan lelaki untuk perempuan bukan perempuan untuk lelaki. Merasa lebih superior kah? Tidak karena ini adalah bentuk perlindungan diri. 


*Oval Roy 

Transjakarta



Apa yang sedang kamu lakukan diujung kertas disana?

Atau mungkin kamu sedang berbincang dengan kopi dan diskusi menarik tentang bangsa.. aku sekarang sedang duduk disebelah kanan dalam bus transjakarta. Yang akan bawa aku sampai halte aku harus turun. Bukan halte terakhir tapi halte ku,

Sekilas ku ingat. Sambil sesekali melirik pasangan yang duduk mesra didepan ku (ku tegaskan tak ada iri disini), busway tidak terlalu penuh malam ini. Jalan lurus kedepan meski mata ku berkeliaran mencari (tak tau mencari apa). Aku selalu lewati jalur yang sama selepas dari kampus menuju rumah kontrakanku. Tidak ada tikungan berarti, toh busway sudah miliki jalannya sendiri. Semua ikuti saja ikuti jalurnya. Koridornya. Yang kulihat pun akhirnya tetap sama, yang ku lalui pun tetap seperti itu.
Dan ini terasa menjemukan…

Bila dirunut lagi, mungkin seperti inilah aku dan kamu. Hanya lalui jalan berjalur saja. Tidak akan ada yang mampu buat kita terfikir mau melangkah kemana lagi kita saat ini. atau kita tidak akan pernah sekalipun melihat ada apa disisi jalan yang sedang kita lalui.

Perputaran ini. bagai keadaan yang tak menentu, harusnya buat aku sadar akan dirimu yang… oke, kukatakan, menarik dan tidak menjemukan seperti jalur ini. jadi aku terima saja kamu ajak aku berputar putar didalam labirin pikiranmu dan situasi yang kamu buat sendiri. sampai dititik aku harus sadari apa aku harus terus ikuti mu didalam jalur yang tak kuketahui akan tiba dimana. Atau aku berhenti ditempat tujuanku, tanpamu, tanpa jalur mu dan laku ku sendiri.
Sepertinya aku memilih yang kedua..

Bukan berarti tak ada lagi cinta untuk mu (walaupun jelas tak ada cinta untuk ku) tapi aku hanya biarkan kamu kemudikan sendiri hidupmu, rasamu. 
karena cinta harus mengerti... 

Dan biarkan aku mencoba kendalikan hidupku, hatiku, pandanganku. Tanpa lagi terikat dalam jalur jalur pikiranmu…

Toh akhirnya kita harus melangkah masing – masing. Seperti aku yang telah sampai di halte tujuanku, dan dirimu dalam duniamu yang tak ingin lagi ku tau..

Aku harus turun, tinggalkan lajurmu yang berlalu dengan sedikit cerita diatas busway malam ini…




Transjakarta
Halte unj – manggarai
20.20
01 Februari 2011

naif.

Fajar ini..
“ Tanpa burung. berkicau”
“ Tanpa matahari. menyapa”

Hanya dingin.

Kenapa singkat ini rasa begitu sakit.
“aku terjepit”

Aku pernah rasakan sakit.
“tapi bukan seperti ini.”

“terbuang”
“dibuang”
“mengiba”
“tersiksa”
“menyiksa”
Titik.

Maaf untuk semua sakit karenaku
Semua air mata yang mengalir untuk ku. Maaf.

Memang aku saja yg tak lagi pantas.
Dicinta. Mencinta.

-------------------------------------------------------------
Kosong. Dalam fajar itu.
Entah waktunya kapan. 


Oval Roy 

Itu ingin mu.



Aku dan kamu (Kita)  hanya terpisah dalam untaian benang beruraian
Tapi aku tau hatimu lagu yang tak sempat diisi melodi

Aku terjangkar dalam mu
Ingin bebas pun tetap sama terantai.. ; kebas

Senar kaku, lalu putus ; pupus
Tapi dalam telingaku, lagu mu telah mengalun

aku bisa apa?
Cuma lihat mu tertutup bata bata ; terbata

Dihalangi ego dalam dinding gelap kaya cipta
Aku ingin lepas ; kosong

Bila harus lari akan ku lakukan cepat
Tapi seketika pun tidak cukup
Toh tetap begini ; statis


Terbang. “ mungkin kah?”
Bila lari tiada mungkin lagi.
Sialnya elegi mu masih ikuti
Aku harus kemana?

Katakan

Bila ingin mu bata tetap kokoh
Benang beruraian.
Tak suka aku bertahan. Itu ingin mu.


                           “lalu kamu ludahi aku sekejap cepat buang”


     “ Maafkan aku. Aku hanya tak mampu untuk tidak mencintai lagi..”


****************************************

*saat aku tak mampu mengingat waktu..


Oval Roy 

Sunday, February 6, 2011

Beranda dilantai delapan



Lantai delapan. 

Lift terbuka, keluar perlahan, lalu kamu ketuk pintu kamar apartemen ku yang tepat berada didepan lift. aku bsa cium bau mu... meski tak pernah sekalipun kamu ada disini. tapi aku tau itu dirimu. 

jejak mu damai. perlahan, nyaris tak bersuara...

kau ketuk sekali lagi pintu kamar ku, kamu tau aku pura - pura tidak dengar dan mengintip mu dari lubang pintu.

aku ingin sekali berteriak. itu benar kamu. ratusan malam aku menunggu, ribuan cangkir kopi aku habiskan selama menanti dan sekarang kamu benar datang. 

jantung ku berpacu, ku buka pintu perlahan....

sayang,, bau mu semakin terasa lembut di hidungku..
tarik nafas ku panjang, tak ingin habuskan, biarkan paru - paru ku ini penuh dengan aroma mu.... mungkin bisa ku simpan untuk beberapa waktu..

kamu tersenyum... 

kamu manis...

kamu lembut...

baik sekali...


mata mu tulus....


aku terdiam. 

kamu belai rambut ku, cium keningku...

raba bibirku...


iya sayang.. aku disini. menanti kamu... ingin aku teriakkan itu, tapi toh hanya terdiam. kelu 


kamu masuk ke dalam kamar ku....

OH TIDAK.... 

jangan kau porak porandakan kamar ku, aku baru saja membereskannya, bersiap bila kamu datang... 
jangan setoples kopi hitam itu, jangan bakar lagu lagu milik ku, ranjang ku, semuanya... jangan kau buang,,, jangan kau rusak. jangan kau singkirkan....


aku sakit........ 



JANGAAAAAAN........


aku berteriak, menangis, berlari ke lorong depan, lift mati, tak ada siapa pun... sampai aku lihat mereka. tak bergerak, sama bisunya dengan mu sedaritadi tanpa suara, aku memohon pada mereka, aku mengiba padamu... tapi sama saja,,,


aku menangis delapan belas jam... 

dibawah ranjang ku dan selimut motif macan. aku dingin. 

kamu masih menghancurkan seisi kamar ku, sesaat ku perhatikan.... aku suka lihat ini, 

kamar hancur ini, aku suka. sungguh.

aku suka... karena kamu yang lakukan ini. 

aku diamkan saja.... sampai kamu puas, aku pun puas dalam lekat pandangan mu, dekat mu, meski perih tapi aku senang, aku akan menunggu sampai kamu mereda... sampai malam menjadi pagi. 
sampai tangis menjadi senyum yang tanpa perih. 


kamu. dengan laku mu, 

aku dengan hidupku. 

aku senang meski kamu mulai merasa letih.

-----------------------------------------------------


kamu akhirnya reda, duduk bersila dipinggir ranjang. tak ada lagi peluh bukan??
aku ambilkan mu segelas air dingin, gelasnya bekas anggur merah yang ku cicipi saat kamu mulai reda. 
air dinginnya dibuang, basah kelantai, aku terpeleset karenanya.. dan luka lagi. 

hujan didepan berlarian, malam semakin mengejar.. hanya ada dingin, 

kamu pun keberanda... tarik nafas panjang dan dihembuskan.. 
ku ingat.. senyum mu manis saat itu, sama seperti awal aku bukakan pintu kamar ku..

kamu tersenyum lagi,,,, merentangkan tangan,,,, menikmati beranda dilantai delapan

"JANGAN SAYANG... SINI MENDEKAT... aku tak apa kau maki, kau hancurkan, asal kamu disini, disini saja sayang... aku tak apa bila semua orang bilang aku dungu, sesungguhnya aku pun pintar karena mu,, hanya mereka yang tak tau... disini saja Malam ku sayang.... bersama ku, hancurkan lagi ruangan ini, mungkin suatu saat nanti kita bisa rapikan ini bersama.... disini saja sayang.... jangan biarkan nafasku jadi berdebu, perih ku jadi bercandu... aku hanya ingin kamu...... jangan sayang.. aku masih disini menanti pasir jadi kopi, asap jadi kabut.... jangan sayang..." 


akhirnya bayangan mu pun loncat. bunuh diri. mati. tinggalkan aku. 

sendiri. 


*****************************************************


23.48 
06 February 2011.

Oval Roy 

Lollipop kecil...




Untuk Lollipop yang belum sempat terjilat.

Sabarlah sayang, untuk sementara ini nyamanlah didalam dompet unguku, sampai akhirnya manismu akan terenggut dengan cinta. Lollipop lima ribuan ku yang manis, warna mu tetap saja indah kok. Tidak perlu takut merah itu akan jadi hitam, hijau itu tak akan jadi lumut, putih mu tidak akan meluntur dan biru mu akan tetap cemerlang. Kamu akan tetap aman, sampai tiba kamu bertemu pemilikmu.

Pasti kamu lelah menanti ya?

Tetap ingat lollipop, kesabaran yang tulus pastinya akan manis, kita cukup berdiam saja sampai waktu datang lagi. Dia hanya masih belum berani sentuh mu, bahkan dia belum bisa sadari hadirmu, jadi tunggu saja masanya. Aku masih setia kok menemani mu.

Lollipop kecilku, maaf bila kamu merasa akan ku buang dan mendiamkan mu disana begitu lama. Tidak, tidak begitu, kamu akan tetap aman disana sampai akhirnya kamu bertemu dia, dia pasti akan suka. Karena aku masih menjagamu, dari orang lain yang sudah begitu saja terbius dengan manis dan warna dirimu. Tidak akan kubiarkan, sampai dia datang lagi.

Jangan muram ya lollipop, aku saja berusaha tetap tersenyum dan tertawa, karena bila hati kita tetap tersenyum pasti wajah kita pun akan berseri, dan itu cantik.

Lollipop ku yang cantik. Baik baiklah dalam dekapan ku, dijaga hatiku, sampai saatnya kamu akan terkulum dengan cinta.


Terima kasih lollipop ku yang bersabar...



Lollipop kecil didalam dompet ungu.
03 Februari 2011
22.29
Ruang 302.





Borneo disarung cokelat


Borneo disarung cokelat.
Sebuah ungkapan lagi untuk dirimu, maaf jangan sampai bosan. Saat akhirnya aku tahu bahwa kamu bersedia menungguku dan menjemputku rasanya detik itu juga ingin aku bawa terbang begitu saja Garuda agar cepat tiba di kota kita, bukan merindu dengan sesak dan binarnya ibukota, aku hanya ingin tiba menjumpaimu dan tak ingin kamu menungguku lebih lama. Sayangnya pesawat take off masih satu jam lagi.

Bandara Sepinggan gelisah, bergegas usir aku dari Balikpapan, bukan karena kehadiran ku tapi karena resah ku akan kamu. Rindu.

Saat aku duduk memandangi sebuah pesan pendek dari pria diseberang lautan sana (kamu) aku teringat hadiah kecil yang belum ku miliki untuk mu. Aku harus temukan itu dalam waktu setengah jam. Aku mencari disetiap pojok Sepinggan. Apa yang akan aku berikan untuk malam ku disana. aku kunjungi setiap toko souvenir yang ada, aku terpesona dengan sarung cokelat yang kini dalam genggaman mu. dekapan mu.

Kenapa harus sarung?  Karena aku ingin kamu berdoa untuk doamu, untuk hidup mu, kebahagianmu
Agar dalam doamu aku turut serta ada disana, bukan didalam untaian doa itu, cukup aku ada ketika kamu berbincang dengan tuhan mu.. berdoa lah untuk mu sayang.

Cokelat. Karena cokelat seperti warna Cappucinno yang pernah kita nikmati bersama. Cokelat seperti tanah, tempat aku melangkah, menempel disisi sepatuku, telapak kaki ku. Dan kamu telah melekat erat disetiap jejak yang aku lalui. Bahkan sampai ke borneo.

Akhirnya aku dan garuda lepas landas, dikecepatan beribu knot aku merasa itu masih terlalu lambat, malam itu kalau saja aku bisa kemudikan pesawat, aku akan gantikan pilotnya agar Garuda terbang lebih cepat. Karena aku tau kamu sedang menungguku.
Bila aku mampu berlari secepat kilat, sampai di Soekarno hatta aku akan berlari sampai jln. Proklamasi dengan kakiku, agar semenit dapat kuselamatkan dan kulalui bersama mu.
Tapi aku harus menunggu. Menunggu garuda terbang dengan stabil, menunggu Damri dikemudikan terjaga. Menunggu hatiku tidak resah.

Malam sayang, terima kasih tunggu aku begitu lama untuk bertemu ku, dengan perjuangan yang tak perlu aku tau (tapi aku tau). Aku tersanjung dengannya, aku percaya adanya cinta saat itu. Meski itu malam ku yang terakhir. Tapi sungguh masih ingat jelas binar matamu yang kelelahan, ingin rasanya kuteduhkan itu. Agar tak ada lagi lelah hinggap dalam bola mata indahmu.

Borneo disarung cokelat. Bila aku tau itu malam terakhir yang indah maka aku akan tiba di Jakarta lebih cepat dari kemarin, agar waktu bincang kita lebih lama lagi walau hanya lebih lama sepersekian detik. aku ingin waktu iri pada kita, aku ingin azan subuh terpesona lihat kita. Karena memang hanya malam itu. Selama ada malam, disitu ada cinta untukmu..

Terima kasih. Di sarung cokelat aku titipkan doa mu



22.11
02 Februari 2011
“mengingat borneo” 


Oval Roy 

Mengingat Borneo



Samarinda, 17 November 2010.
Angin borneo seperti nafasmu.. pintu kamar hotel ku pun seolah diketuk lembut, menandakan kehadiranmu. Ups, ini bukan nyata, hanya bayangku yang seolah hadirkanmu. Borneo, aku disini, kamu pun jauh disana, ditengah kota yang keadilan pun dipangkas untuk tidak adil. Kamu bertahan dikotamu, kota kita.


Sementara saja aku pijak borneo.
Semua untuk hidupku yang harus kuburu nafasnya.

Aku kecilkan lagi pendingin udara didalam kamar hotel bintang empat ini. Dingin disini. Malam diborneo sungguh terasa dingin, apa karena tidak ada hadirmu disini?
Atau malam yang semakin memaksa angin berhembus kencang..
Malam itu diborneo, saat air dalam sungai Mahakam terus saja alirkan memori tentang dirimu.. aku ditepinya berbisik.. andai air mampu alirkan dan bawa aku ketempat mu. Aku ingin.
Ingin sekali.

“mengingat borneo”
1 Februari 2011 


Oval Roy 

Dua Sepuluh

Dariku untuk serangkai perputaran waktu  
Ku sambut lingkaran mu dengan cinta
Antara hari aku telah menangis
Saat pagi mu tiba aku tersenyum

Dua Sepuluh
Dalam malam mu, aku dingin
Seketika mentari mu datang aku kembali ; hangat

Dalam waktu mu
Aku belajar kesetian dan ketulusan ; mencintai
Berdiri dan melangkah ; beranjak

Terima kasih 2010
Bumi akan kembali berotasi
Dan aku setia ikuti poros bumi Mu
Dari titik yang sama dengan jejak baru

31 desember 2010
Harmoni
17.59