Jika kau adalah do'a yang digantikan dan kau adalah do'a yang tak terjawab.
Maka, aku tetap merahasiakan do'a ku, menyebut nama mu, kepada-Nya.
Menyebut nama Tuhan yang mengajari ku mencintaimu.
Jika kau adalah do'a ku yang tidak dikabulkan,
maka pasti ada yang terkabul tanpa ku minta.
Tuhan selalu yang paling baik.
Kita berdua paham itu.
Surakarta, 03 september 2015
Ini adalah surat cinta tentang sebuah sungai, dimana mengalir dari hulu ke hilir, ke pantai lalu ke samudera. tapi aku adalah kebalikan. Ini adalah surat cinta diam-diam, untuk kamu yang bisa membaca tanpa bisa menerjemahkan. ini aku yang membacamu, dan aku suka.
Thursday, September 3, 2015
Kozmic Blues
Semua cepat berlalu begitu saja, rasanya belum seperempat abad, tapi rupanya aku lupa.
Ahh, ini baru seperempat, tapi rasanya baru kemarin, baru kemarin aku menangis saat bangun tidur karena tiba-tiba tak ada mama ku, ku pikir mama ku hilang,, padahal cuma di depan rumah, siram tanaman.
Rasanya baru kemarin, aku bisa naik sepeda roda dua punya mama, lalu jatuh tapi tetap lanjut main sepeda tak peduli apa akan jatuh lagi.
Rasanya baru kemarin aku lulus SMA, kumpul bersama teman - teman cewek segenk. Belajar nakal.
Tapi, waktu berlalu, orang - orang berubah, memori tetap sama dan aku beradaptasi.
Buka mata hari itu, 29 Agustus, ketika apa yang diharapkan tidak datang untuk hari ku, mungkin ada saatnya nanti di hari yang lain saat aku membuka mata pasti ada senyuman untuk doa yang tidak di kabulkan Tuhan, dijawab dengan yang lain yang lebih indah.
Jangan takut, sungguh kecil kuasa manusia, sungguh besar untuk Tuhan membuat semua hal menjadi mungkin, tanpa kemungkinan.
Some people are like trees, they take forever to grow up.
Berbaik sangka, rupanya itu tugas manusia yang baru saja aku pelajari untuk 25 Tahun yang sudah dijalani dan 25 Tahun didepan.
"God will be with me all the time..."
29 Agustus – Cibubur ; Testcam Night Bus
03 September 2015
surakarta menuju jogja.
Mengingat kelahiran.
Ahh, ini baru seperempat, tapi rasanya baru kemarin, baru kemarin aku menangis saat bangun tidur karena tiba-tiba tak ada mama ku, ku pikir mama ku hilang,, padahal cuma di depan rumah, siram tanaman.
Rasanya baru kemarin, aku bisa naik sepeda roda dua punya mama, lalu jatuh tapi tetap lanjut main sepeda tak peduli apa akan jatuh lagi.
Rasanya baru kemarin aku lulus SMA, kumpul bersama teman - teman cewek segenk. Belajar nakal.
Tapi, waktu berlalu, orang - orang berubah, memori tetap sama dan aku beradaptasi.
Buka mata hari itu, 29 Agustus, ketika apa yang diharapkan tidak datang untuk hari ku, mungkin ada saatnya nanti di hari yang lain saat aku membuka mata pasti ada senyuman untuk doa yang tidak di kabulkan Tuhan, dijawab dengan yang lain yang lebih indah.
Jangan takut, sungguh kecil kuasa manusia, sungguh besar untuk Tuhan membuat semua hal menjadi mungkin, tanpa kemungkinan.
Some people are like trees, they take forever to grow up.
Berbaik sangka, rupanya itu tugas manusia yang baru saja aku pelajari untuk 25 Tahun yang sudah dijalani dan 25 Tahun didepan.
"God will be with me all the time..."
29 Agustus – Cibubur ; Testcam Night Bus
03 September 2015
surakarta menuju jogja.
Mengingat kelahiran.
Monday, August 3, 2015
Berhenti saja.
Aku seperti anak kecil yang lagi mencoba memeluk gajah, seerat apapun aku berusaha, gajahnya masih terlalu besar untuk aku rangkul.
Buat berkata jujur rasanya sulit sekali, ga hanya ketika aku bilang semuanya. Bahkan untuk jujur sama diri ku sendiri pun sulit. But, i choose to talk..
Untuk menghancurkan semuanya...
Ya..!
Karena, aku tahu, segimana kerasnya aku coba pun akhirnya aku tetap ga bisa memeluk gajah itu sepenuhnya.
Semua jadi lebih ringan, buat ku. Sekarang.
Seperti yang ku bilang "no hard feeling"
Dari pada semua tertahan dan akhirnya menumpuk kaya yang dulu-dulu, lebih baik aku stop semua. I cut it off..
Ahh aku sudah bunuh diri namanya. It's okay,, i'm fine. Karena jatuh cinta memang tak pernah mudah.
I stop my self dreaming.
....selesai.
3 Agustus 2015
Packing menuju pulang.
Buat berkata jujur rasanya sulit sekali, ga hanya ketika aku bilang semuanya. Bahkan untuk jujur sama diri ku sendiri pun sulit. But, i choose to talk..
Untuk menghancurkan semuanya...
Ya..!
Karena, aku tahu, segimana kerasnya aku coba pun akhirnya aku tetap ga bisa memeluk gajah itu sepenuhnya.
Semua jadi lebih ringan, buat ku. Sekarang.
Seperti yang ku bilang "no hard feeling"
Dari pada semua tertahan dan akhirnya menumpuk kaya yang dulu-dulu, lebih baik aku stop semua. I cut it off..
Ahh aku sudah bunuh diri namanya. It's okay,, i'm fine. Karena jatuh cinta memang tak pernah mudah.
I stop my self dreaming.
....selesai.
3 Agustus 2015
Packing menuju pulang.
Kau yang keren, tapi tidak cukup sangat keren.
Jadi..
Ku pikir, kau itu singa yang sukanya lompat sana sini, singa yang sok galak...
Ternyata benar, kau hanya sok galak.
Tapi. Aku berhasil melihat mu rapuh, dan aku suka.
Artinya bukannya aku lebih rapuh dari mu, iya.
Dan aku tetap suka.
Ahh, sudah kita simpulkan,
perempuan itu perasa dan laki-laki itu egois.
Dan jangan salahkan aku jika rasa ini penuh
sementara kau tak ingin peduli.
Falling in love with you was the worst kind of self destruction..
Terima kasih kau telah membebaskan aku dari setumpuk rasa yang menyiksa,
yang sudah mengendap bertahun pun larut, yang salah pun berlalu.
Kesukaan ku sekarang adalah menahan diam-diam.
Rahasia. Mendoakan mu.
(Di sebuah tempat) ...
3 Agustus 2015
Ku pikir, kau itu singa yang sukanya lompat sana sini, singa yang sok galak...
Ternyata benar, kau hanya sok galak.
Tapi. Aku berhasil melihat mu rapuh, dan aku suka.
Artinya bukannya aku lebih rapuh dari mu, iya.
Dan aku tetap suka.
Ahh, sudah kita simpulkan,
perempuan itu perasa dan laki-laki itu egois.
Dan jangan salahkan aku jika rasa ini penuh
sementara kau tak ingin peduli.
Falling in love with you was the worst kind of self destruction..
Terima kasih kau telah membebaskan aku dari setumpuk rasa yang menyiksa,
yang sudah mengendap bertahun pun larut, yang salah pun berlalu.
Kesukaan ku sekarang adalah menahan diam-diam.
Rahasia. Mendoakan mu.
(Di sebuah tempat) ...
3 Agustus 2015
Thursday, June 18, 2015
Ku sempatkan waktu..
Di taman. lampu bulat depan kita mati, padahal yang lain masih menyala.
sebatang rokok, asap mengepul di ujung bibir mu.
kau bilang. "aku tak punya waktu"
menghisap lagi rokok dalam-dalam.
"kau bohong.."
"benar.... aku sudah tidak punya waktu lagi.."
"sebentar pun..?"
"kalau pun ada, aku tidak ingin memberikan waktu ku untuk mu.."
aku diam.
jantung ku seperti ditusuk belati. tapi mengapa aku tidak mati saja.
"kenapa..?"
"sudah cukup kemarin aku hampir gila.."
"lalu sekarang, kau sudah sembuh..?"
"iya.."
"kau hebat.."
kau diam.
"bagaimana caranya..?" ku bilang
"aku tak ingin jadi gila, aku tak ingin rusak.."
"aku ingin seperti mu..."
"kau pasti bisa..."
lalu kau pergi.
pergi.
aku masih duduk sendirian di taman ini. lampunya masih mati, tak ada lagi asap rokok.
aku seolah masih merasakan kau duduk disini, seolah jemari mu masih mengenggam jemari ku, kala lalu.
ah aku bernostalgia.
ini sudah usang, memang benar kau sudah tidak punya waktu, dan kita pun tak lagi punya waktu.
kita tidak pernah membawa waktu lebih untuk kita simpan, semua yang berjalan begitu saja berlalu.
seharusnya mungkin, aku mendoakan mu saja agar terus gila, dan kita berdua bahagia dalam gila, tapi bukankah aku artinya telah egois pada diri ku sendiri, padamu..?
ah aku bernostalgia.
asap masih mengebul, bukan dari ujung bibir mu, tapi dari ujung bibir ku. orang-orang berlalu lalang, memandangi ku, spertinya sedari tadi aku sudah menjadi pusat perhatian, apa benar kau pernah ada duduk disini..?
setidaknya aku berandai jikalau kau jujur, kau telah berhasil sembuh dari kegilaan, tinggal aku sendirian, kau berhasil lenyap dan melarikan diri, setidaknya kau berhasil pergi, begitu saja. maka aku harus belajar, dua pilihannya.. belajar membiarkan mu pergi atau menyadari bahwa kau memang tidak pernah duduk disini.
seumpama akhirnya aku berkaca, bahwa sedari tadi aku duduk sendirian. maka harusnya aku lekas sembuh sebagaimana kau.
semoga esok, dunia tak mengenal kegilaan ini.
"Tapi semoga besok, semua hilang." - Pesan Singkat
Adityawarman, 17 Juni 2015
Sunday, June 7, 2015
Thursday, May 28, 2015
Tuan Kereta
selamat sore, Tuan Kereta.
sore ini kita kencan lagi, mandi sinar matahari, wajah Ku penuh keringat, aku tadi hampir saja terlambat lagi untuk bertemu kamu.
Tuan Kereta. entah sudah berapa puluh kali aku kencan berdua dengan mu, disetiap rel mu berdecit, Dan setiap kursi tempat duduk selalu ada cerita.
cerita tentang pelarian, cerita tentang pilihan, jatuh cinta, persahabatan, berjuang, mempertahankan, jatuh cinta lagi, Dan jatuh lagi.
:)
kamu banyak berubah Tuan Kereta, aku ingat dengan pasti, kencan pertama kita. berdua saja.
kala itu perjalanan mu dimulai malam hari, Dan bukan hanya aku yang berkencan dengan mu. rupanya aku tak benar-benar sendirian. kamu penuh sekali. tapi tetap gagah membawa kami. satu jam aku berdiri. ingin menangis. tapi Malu.
Dan kencan Kita berlanjut, kadang aku bosan padamu, jadi aku memilih berkencan dengan Tuan Kereta yang lain. maaf aku tidak setia walau sebenarnya aku akan selalu kembali padamu.
Kau sudah banyak berubah.
sekarang sekali kencan sudah 75 ribu. padahal saat kencan pertama kita. hanya 35 ribu.
sekarang kamu sudah ber-AC, Dan lebih perhatian karena mengharuskan semua orang harus duduk.
kamu makin gagah sekarang.
Dan hey, sepertinya juga tak ada yang berubah, kamu tetaplah kereta ekonomi yang jogja - jakarta, Dan aku tetap saja aku dengan T-shirt, celana pendek Dan sandal jepit. seperti kencan pertama kita, tidak ada yang berubah. ternyata.
sore ini kita kencan lagi, mandi sinar matahari, wajah Ku penuh keringat, aku tadi hampir saja terlambat lagi untuk bertemu kamu.
Tuan Kereta. entah sudah berapa puluh kali aku kencan berdua dengan mu, disetiap rel mu berdecit, Dan setiap kursi tempat duduk selalu ada cerita.
cerita tentang pelarian, cerita tentang pilihan, jatuh cinta, persahabatan, berjuang, mempertahankan, jatuh cinta lagi, Dan jatuh lagi.
:)
kamu banyak berubah Tuan Kereta, aku ingat dengan pasti, kencan pertama kita. berdua saja.
kala itu perjalanan mu dimulai malam hari, Dan bukan hanya aku yang berkencan dengan mu. rupanya aku tak benar-benar sendirian. kamu penuh sekali. tapi tetap gagah membawa kami. satu jam aku berdiri. ingin menangis. tapi Malu.
Dan kencan Kita berlanjut, kadang aku bosan padamu, jadi aku memilih berkencan dengan Tuan Kereta yang lain. maaf aku tidak setia walau sebenarnya aku akan selalu kembali padamu.
Kau sudah banyak berubah.
sekarang sekali kencan sudah 75 ribu. padahal saat kencan pertama kita. hanya 35 ribu.
sekarang kamu sudah ber-AC, Dan lebih perhatian karena mengharuskan semua orang harus duduk.
kamu makin gagah sekarang.
Dan hey, sepertinya juga tak ada yang berubah, kamu tetaplah kereta ekonomi yang jogja - jakarta, Dan aku tetap saja aku dengan T-shirt, celana pendek Dan sandal jepit. seperti kencan pertama kita, tidak ada yang berubah. ternyata.
"....biarlah pagi perlahan"
Dua perempuan.
Perempuan pertama dan perempuan kedua.
menertawakan hal yang sama, biasanya mereka saling menangisi satu sama lain ketika salah satunya kesakitan.
Tapi malam ini, di tengah kerumunan, mereka berbeda.
Dua perempuan, sudah terbiasa berdua saja.
Kadang perempuan pertama bisa begitu ketus, dan perempuan kedua sewaktu-waktu menggila. Atau kadang kebalikannya. Mereka komplit.
Dua perempuan, tidak menangis malam itu, ditengah kerumunan. Mendengar sebuah lagu.. Yang baru pertama kali mereka dengar... "Biarlah pagi perlahan..."
Mereka berdua saja.
"Kau perempuan penggoda!" Perempuan pertama bilang didalam hati.
Perempuan kedua diam saja, karena tak mendengar.
Perempuan kedua mencoba bernyanyi,, lirik yang masuk kedalam telinganya dan meluncur ke dalam hati; " jalan tak berhenti, arahnya entah kemana..."
"Jangan salahkan aku! Aku tidak tahu, aku tidak bisa mengendalikan ini semua...!" Dua perempuan, mereka berdua saja.
Kepala mereka terasa berat, padahal tidak mabuk. Mereka lara.
"Kau tahu rasanya dikhianati..?"
"Tidak, oh... Tidak, aku tahu, saat ku melihat mu..!"
"Sakit kau...!"
Perempuan pertama menangis, perempuan kedua tidak tahu.
Mereka berbincang di dalam hati, perempuan pertama menangis di dalam hati
Pagi tadi.
sebuah pesan masuk.
"Kau sakit..? Tapi kau baik-baik saja kan..? Ah sudahlah, kau tentu bahagia di sana, bersama penggoda itu...!"
"Ah sudahlah, biarkan saja, aku lebih baik menahan rindu...!
Perempuan pertama menunduk.
"Dunia telah terlelap, terhanyut dalam gelap..." Lirik kembali mengalun.
Pagi tadi.
Di perempatan kota
"Sumpah! Aku melihat mu, t-shirt hitam mu, sepatu boot hitam mu.. Aku bersumpah, aku melihat mu jam setengah sembilan pagi tadi...!"
"Kau gila"
"Iya, aku sudah gila, ah sudahlah.. Mungkin aku memang sudah gila.."
"Mendengar rahasia yang terucap dan tawa yang tergelak..." Lirik mengalun lagi..
Di antara kerumunan orang, orang-orang yang bau alkohol, lampu panggung yang menyorot retina terasa sakit.
"Kau tahu rasanya mimpi yang kau jaga setiap malam dan ternyata hilang seketika saat kau bangun.. Kau tidak akan bisa bernafas..."
Perempuan pertama berbisik.
"Kau tau rasanya ketika kau berjalan sendirian, kesakitan tiba-tiba kau kelelahan, lalu tanpa terasa kau tertidur, kembali bermimpi indah, dan saat kau bangun ternyata kau sadar semua hilang, ini cuma mimpi... Kau tidak ingin lagi bernafas.."
Perempuan kedua berbisik.
"Seharusnya tidak ada pengganggu didalam semua mimpi ku..."
"Apa hanya kau yang boleh bermimpi...?"
"Tidak juga, kau boleh juga, hanya mimpi mu salah..."
"Apa yang salah dari mimpi, aku hanya kelelahan, lalu aku ingin berhenti sejenak..."
"Tapi seharusnya bukan menjadi perusak.. Aku sangat mengenal mu tolol..."
"Kau yang tolol, sudah tau kau hanya di sakiti, kau diduakan ingat, kau ini diabaikan, kau menunggu mimpi mu sepanjang hidup mu, dan kau tau semua berakhir ketika kau bangun.."
"Ini terlalu menyakitkan..."
"Aku tidak bisa mengendalikannya.."
"Apa kau sebut ini cinta...? Bullshit, cinta itu tidak merusak hubungan orang lain..."
"Apa kau sebut ini cinta...? Menyedihkan, cinta itu tidak saling menyakiti.."
"Dan kita berdua tolol"
"Bukan, kita berdua jatuh cinta. Pada mimpi..."
"Maafkan aku, sulit berada di posisi mu.. Aku melepaskannya..."
"Maafkan aku, sulit berada di posisi mu.. Aku melepaskannya..."
"Aku berkaca padamu, melihat mu sakit.. Aku tidak tega.."
"Aku berkaca padamu, melihat mu sakit.. Aku tidak tega.."
"Tapi akhirnya mereka tega membuang kita begitu saja.."
"Ya, mereka tega.."
"Sudahlah, dia sudah memilih perempuan keduanya..."
"Dan sudahlah, dia lebih memilih perempuan pertamanya.."
"Tetap saja, bukan salah satu dari kita..."
Dua perempuan berbincang didalam diam.
Ya sudah harusnya mereka saling diam, agar saling memandang satu sama lain, menyimpan tangis masing-masing. Biasanya, mereka bercerita semua hal.. Tapi tidak kali ini, rahasia yang sudah terbuka pun didiamkan saja, merasakan semuanya sendirian, memahami saja sendirian, sungguh lucunya saling menyayangi.
Menyimpan rindu mereka masing-masing, cerita mereka sendiri-sendiri. Saling berbisik doa, untuk hati mereka yang telah pergi. Dia yang telah memilih bersama perempuan keduanya, dan dia yang memilih bersama perempuan pertamanya.
Karena toh,dua perempuan tetap berdua saja.
"Saat bersama tak terasa terbawa suasana, seakan waktu tiada berkuasa... Saat bersama tak terasa segala lelah dan lara, biarlah pagi perlahan menyapa..."
Dua perempuan di antara kerumunan orang-orang berdansa, lupa pada bau alkohol, lupa pada bau asap rokok, lupa pada cerita mereka...
3:56 menit pun usai, lagu pun berhenti, mereka melanjutkan lagu berikutnya, terus seperti itu hakikatnya, setelah satu cerita usai maka ada cerita yang lain.
Air mata menetes pelan, diam-diam. Tidak ada yang saling tahu, tapi saling mengerti.
Dua perempuan ini pun pulang, sudah hampir pagi..
"Lets us ride till the sun rise.."
Malam telah usai.
- terinspirasi lagu 3:56 - Rumahsakit
Carburator spring bintaro, 27 Mei 2015
Cheers my soulsister, anita bonit.
:')
Pejaten, 28 Mei 2015
Perempuan pertama dan perempuan kedua.
menertawakan hal yang sama, biasanya mereka saling menangisi satu sama lain ketika salah satunya kesakitan.
Tapi malam ini, di tengah kerumunan, mereka berbeda.
Dua perempuan, sudah terbiasa berdua saja.
Kadang perempuan pertama bisa begitu ketus, dan perempuan kedua sewaktu-waktu menggila. Atau kadang kebalikannya. Mereka komplit.
Dua perempuan, tidak menangis malam itu, ditengah kerumunan. Mendengar sebuah lagu.. Yang baru pertama kali mereka dengar... "Biarlah pagi perlahan..."
Mereka berdua saja.
"Kau perempuan penggoda!" Perempuan pertama bilang didalam hati.
Perempuan kedua diam saja, karena tak mendengar.
Perempuan kedua mencoba bernyanyi,, lirik yang masuk kedalam telinganya dan meluncur ke dalam hati; " jalan tak berhenti, arahnya entah kemana..."
"Jangan salahkan aku! Aku tidak tahu, aku tidak bisa mengendalikan ini semua...!" Dua perempuan, mereka berdua saja.
Kepala mereka terasa berat, padahal tidak mabuk. Mereka lara.
"Kau tahu rasanya dikhianati..?"
"Tidak, oh... Tidak, aku tahu, saat ku melihat mu..!"
"Sakit kau...!"
Perempuan pertama menangis, perempuan kedua tidak tahu.
Mereka berbincang di dalam hati, perempuan pertama menangis di dalam hati
Pagi tadi.
sebuah pesan masuk.
"Kau sakit..? Tapi kau baik-baik saja kan..? Ah sudahlah, kau tentu bahagia di sana, bersama penggoda itu...!"
"Ah sudahlah, biarkan saja, aku lebih baik menahan rindu...!
Perempuan pertama menunduk.
"Dunia telah terlelap, terhanyut dalam gelap..." Lirik kembali mengalun.
Pagi tadi.
Di perempatan kota
"Sumpah! Aku melihat mu, t-shirt hitam mu, sepatu boot hitam mu.. Aku bersumpah, aku melihat mu jam setengah sembilan pagi tadi...!"
"Kau gila"
"Iya, aku sudah gila, ah sudahlah.. Mungkin aku memang sudah gila.."
"Mendengar rahasia yang terucap dan tawa yang tergelak..." Lirik mengalun lagi..
Di antara kerumunan orang, orang-orang yang bau alkohol, lampu panggung yang menyorot retina terasa sakit.
"Kau tahu rasanya mimpi yang kau jaga setiap malam dan ternyata hilang seketika saat kau bangun.. Kau tidak akan bisa bernafas..."
Perempuan pertama berbisik.
"Kau tau rasanya ketika kau berjalan sendirian, kesakitan tiba-tiba kau kelelahan, lalu tanpa terasa kau tertidur, kembali bermimpi indah, dan saat kau bangun ternyata kau sadar semua hilang, ini cuma mimpi... Kau tidak ingin lagi bernafas.."
Perempuan kedua berbisik.
"Seharusnya tidak ada pengganggu didalam semua mimpi ku..."
"Apa hanya kau yang boleh bermimpi...?"
"Tidak juga, kau boleh juga, hanya mimpi mu salah..."
"Apa yang salah dari mimpi, aku hanya kelelahan, lalu aku ingin berhenti sejenak..."
"Tapi seharusnya bukan menjadi perusak.. Aku sangat mengenal mu tolol..."
"Kau yang tolol, sudah tau kau hanya di sakiti, kau diduakan ingat, kau ini diabaikan, kau menunggu mimpi mu sepanjang hidup mu, dan kau tau semua berakhir ketika kau bangun.."
"Ini terlalu menyakitkan..."
"Aku tidak bisa mengendalikannya.."
"Apa kau sebut ini cinta...? Bullshit, cinta itu tidak merusak hubungan orang lain..."
"Apa kau sebut ini cinta...? Menyedihkan, cinta itu tidak saling menyakiti.."
"Dan kita berdua tolol"
"Bukan, kita berdua jatuh cinta. Pada mimpi..."
"Maafkan aku, sulit berada di posisi mu.. Aku melepaskannya..."
"Maafkan aku, sulit berada di posisi mu.. Aku melepaskannya..."
"Aku berkaca padamu, melihat mu sakit.. Aku tidak tega.."
"Aku berkaca padamu, melihat mu sakit.. Aku tidak tega.."
"Tapi akhirnya mereka tega membuang kita begitu saja.."
"Ya, mereka tega.."
"Sudahlah, dia sudah memilih perempuan keduanya..."
"Dan sudahlah, dia lebih memilih perempuan pertamanya.."
"Tetap saja, bukan salah satu dari kita..."
Dua perempuan berbincang didalam diam.
Ya sudah harusnya mereka saling diam, agar saling memandang satu sama lain, menyimpan tangis masing-masing. Biasanya, mereka bercerita semua hal.. Tapi tidak kali ini, rahasia yang sudah terbuka pun didiamkan saja, merasakan semuanya sendirian, memahami saja sendirian, sungguh lucunya saling menyayangi.
Menyimpan rindu mereka masing-masing, cerita mereka sendiri-sendiri. Saling berbisik doa, untuk hati mereka yang telah pergi. Dia yang telah memilih bersama perempuan keduanya, dan dia yang memilih bersama perempuan pertamanya.
Karena toh,dua perempuan tetap berdua saja.
"Saat bersama tak terasa terbawa suasana, seakan waktu tiada berkuasa... Saat bersama tak terasa segala lelah dan lara, biarlah pagi perlahan menyapa..."
Dua perempuan di antara kerumunan orang-orang berdansa, lupa pada bau alkohol, lupa pada bau asap rokok, lupa pada cerita mereka...
3:56 menit pun usai, lagu pun berhenti, mereka melanjutkan lagu berikutnya, terus seperti itu hakikatnya, setelah satu cerita usai maka ada cerita yang lain.
Air mata menetes pelan, diam-diam. Tidak ada yang saling tahu, tapi saling mengerti.
Dua perempuan ini pun pulang, sudah hampir pagi..
"Lets us ride till the sun rise.."
Malam telah usai.
- terinspirasi lagu 3:56 - Rumahsakit
Carburator spring bintaro, 27 Mei 2015
Cheers my soulsister, anita bonit.
:')
Pejaten, 28 Mei 2015
Jika kau.
Aku tidak bisa mengendalikan ini.
Aku setengah gila. Aku melihat mu.
T-shirt hitam mu, sepatu boot mu.
Melewati ku di tengah keramaian.
Kau sudah hilang.
Aku terdiam. Aku hampir tak waras.
Dan bersumpah.. Sungguh itu kamu..!
Tapi.. Kamu sudah kembali sehat, tak seperti lalu, kita berdua setengah gila.
Kini aku sendirian saja.
Gila.
Ah, sulit.
Jejak mu susah di cari, langkah mu terlalu cepat.
Aku tidak bisa mengendalikan ini..
Jika saja, kau baca tulisan ku malam ini
Jika saja, suara ku terdengar di dalam dada mu
Sebentar saja, ajak aku lagi ke taman bermain mu..
Sebentar saja, merasakan lagi roller coaster..
Tak apa jika ku dihempaskan..
Aku butuh benar-benar jatuh.
Bukan memohon, hanya berkata: sungguh aku terlalu rindu.
Jika kau baca ini, kau selalu penuh di kepala ku, mengisi setiap kesalahan, menjadi alasan bibir ku tersenyum penuh..
Jika kau baca ini, ah sudah tidak mungkin..
Kau sudah hilang. Jadi, kau tidak mungkin baca ini.
27 mei 2015
Bintaro
Aku setengah gila. Aku melihat mu.
T-shirt hitam mu, sepatu boot mu.
Melewati ku di tengah keramaian.
Kau sudah hilang.
Aku terdiam. Aku hampir tak waras.
Dan bersumpah.. Sungguh itu kamu..!
Tapi.. Kamu sudah kembali sehat, tak seperti lalu, kita berdua setengah gila.
Kini aku sendirian saja.
Gila.
Ah, sulit.
Jejak mu susah di cari, langkah mu terlalu cepat.
Aku tidak bisa mengendalikan ini..
Jika saja, kau baca tulisan ku malam ini
Jika saja, suara ku terdengar di dalam dada mu
Sebentar saja, ajak aku lagi ke taman bermain mu..
Sebentar saja, merasakan lagi roller coaster..
Tak apa jika ku dihempaskan..
Aku butuh benar-benar jatuh.
Bukan memohon, hanya berkata: sungguh aku terlalu rindu.
Jika kau baca ini, kau selalu penuh di kepala ku, mengisi setiap kesalahan, menjadi alasan bibir ku tersenyum penuh..
Jika kau baca ini, ah sudah tidak mungkin..
Kau sudah hilang. Jadi, kau tidak mungkin baca ini.
27 mei 2015
Bintaro
Monday, May 11, 2015
Azan Subuh
Tuhan, bawa
hati yang tak seberapa ini selalu menunduk di atas semesta Mu.
Di antara
jutaan hati yang kau bentuk, menyebut Mu didalam setiap nafas.
Tuhan, bawa
jantung ini berdetak atas kehendak Mu, melantunkan dari tiap besar Mu.
Tuhan, bawa
aliran darah ini menyanjungkan ribuan partikel rasa syukur kuasa Mu.
Jadikan
jemari ini tangan kecil yang selalu Kau rangkul.
Karena Ruang
didalam gelap adalah sudut hati paling perih, duka terkubur didalam ikhlas.
Sendiri
terbujur mencari siapa nama Mu, takkala logika menghantar pada kemunafikan.
Iman.
Tuhan,
jadikan aku manusia yang berserah.
Sebagaimana Kau
menyerahkan ruh didalam segenggam liat, dan mengembuskan fitrah.
Bersama para
Nabi, dan sahabat aku ingin ada diantara mereka untuk merasakan Cinta Mu.
Subscribe to:
Posts (Atom)