Saturday, August 31, 2013

The sweetest tears.. :)





So wave goodbye
I’m sitting here in my dreams goes by

You walk on by
Close too far
Make my tears fall

Let you go
Let them go
Until we meet in the sweetest die

The rain so warm
The sun so bright

I’m here..
still here
Sitting alone watch them in wave goodbye.. :’)  


Agustus : 23 - Tuhan, Aku ingin tetap hidup.. :')

Selamat ulang tahun untuk saya sendiri! 
Tahun ini rupanya sudah 23 tahun – dua puluh tiga-
Waktu berlari cepat. Datang dan pergi. 

Saya ingin terus bertahan dalam diri saya sendiri. Tahun ini berbeda dari tahun lalu.. bukan hura atau tawa saja. Tangis, dan siapa yang akan tetap berdiri disamping saya, siapa yang datang untuk menyakiti saya saja.. Nampak. Jelas.
Saya ini hanyalah si tolol yang dikelilingi orang yang luar biasa mendampingi saya, menyayangi saya, tulus. Tanpa mereka yang tetap bertahan, saya ini hanya sekilas yang tak tampak. Bukankah begitu hakikatnya manusia, sendiri tapi butuh yang berjalan disamping mu. 

Berterima kasih untuk serombongan manusia – manusia menyenangkan yang saya sayangi… All of them! 

Ga adil rasanya menyebutkan satu nama pun dilembar ini, karena semuanya sudah tertulis indah dihati saya.
Tahun ini, dewasa yang kekanak-kanakan ini pasti akan lebih berat.
Dimulai dari beberapa hal yang mampu saya catat, terpatri.. let ‘some people’ go..
Saya ini sudah cukuplah dihina atas ketololan saya, sudah cukup rasanya mendengar pendapat orang-orang yang salah tentang saya, saya tak haruskan membicarakan, menceritakan atau mengumbar lagi apa yang saya rasakan.. 

Hidup itu ada yang datang dan pergi dan ada yang tetap bertahan disamping kita, apapun kita karena ada sebagian orang yang tidak akan pernah pernah berakhir didalam babak hidup ini. 

Silahkan, sakiti saya..
Silahkan, benci saya..
Karena saya… tidak akan membenci siapa pun.. :)
 
Berjanjilah pada saya dan ingkari saya, saya butuh itu, saya butuh semua sakit itu, karena dengan itu saya akan tau mana yang tulus mana yang tidak. 

Hidup ini ga pernah simple kawan, ga semua orang baik, ga semua yang ditulis ini indah, tinggal bagaimana kita, saya, bertahan dan mencintai apa yang sudah tertulis.
Dua birthday cake tahun ini…
Saya masih ingin birthday cake tahun depan.

Kadang, melepaskan dan meninggalkan itu sakit.
Saya ga boleh marah sama siapapun… bahkan diri saya sendiri.
Di tutup dengan mata yang berbintang… apalagi yang harus saya ucap selain bersyukur untuk semua hal.
Percayalah, Allah itu Maha Oke, didepan pasti akan lebih indah. Someday!!


Mereka menulis ini… “ Friendship akan selalu sip kalo didasari dedikasi, dedikasi didasari dengan pengertian, pengertian muncul dari rasa saling menghargai.. hargai yang datang, cinta yang selalu pergi.. kami tidak akan pergi, akan selalu ada dihati mu, kita yakin itu.. keluarga kita tidak akan hilang, pohon keluarga ini akan tetap mengakar, dihati.. we’ll love you till next 88th.. meet us on 88th..” 


Dari setiap hari bulan taun yg udh gw jalani sama dy, gw tau ternyta dy bukan sekedar temen buat gw.. Sahabat, satu kata yang cocok buat dy
Dy itu orang yg ngmng dmna salah gw, bukan orang yg ngmngin gw dblkang n biarin gw tetap dgn kesalahan yg gw buat tanpa tahu apa yg salah
Dy itu orang yg engga menumbuhkan perasaan negatif dlm hati n pikiran gw...
Dy itu orang yg engga biarin gw menghabiskan wktu dgn sia.sia untk sekedar mengobrol tanpa makna....
Tapi yang pasti semua org sahabat cuma manusia biasa yg ga lepas dari salah n lupa..
Sering juga gw n dy brantem krna masalah kecil n besar.. Tapi, semua bisa selesai dengan jalan kita....
Krna, prsahabatan yg baik itu adlah teman yg mau brbesar hati meminta maaf jika salah n memaafkan kesalahan Sahabat yg berbuat salah...
Buat sahabat gue yang ulang taun hari ini, cuma doa tulus yang bisa gw kasih..
Amiiin, happy birthday my naufal @ovalroy yg udah tenang di kota pilihannya disana.. I miss you, I still miss you ☺



dan banyak lagi yang telah dituliskan.. karena..

Mereka menulis banyak catatan indah dihati saya..

Mereka menulis saya bahagia meski saya banyak menuliskan marah untuk mereka. maaf.
Dalam kerinduan untuk MEREKA SEMUA YANG MENGENAL SAYA – in personal- ! Selalu saya sayangi, selalu tersimpan…. Terima kasih, untuk semuanya. Semuanya. 
 

Ingin tetap dalam Hidup.
Catatan untuk 29 Agustus 2013
Selamat pagi

Jogja, 31 Agustus 2013 











Friday, August 23, 2013

Terima - Kasih


Jika nadir mencatat sesuatu, mungkin sebuah cerita ku bisa saja ditulis, dirangkum dalam tumpukan frame, lalu disaksikan, sekelebat kemudian dalam makian.
Menjelaskan apa yang tak perlu siapa pun tau, buat apa lagi…? Karena memutuskan sesuatu tak seperti melipat ketiak.
Setiap manusia pasti akan BERHENTI. Tak perlu ada pertanyaan; KAPAN..? hapus saja pertanyaan itu.
Karena ketika sudah tau apa yang akan terjadi didepan, tak ada kata selain takut sendirian.  Si Tolol ini rupanya terlalu takut mati.
Ahh… saya ingin Kembali. Mungkin reaksi saya berlebihan- tapi semoga tak ada satu pun yang merasa apa yang menjejali saya.
Dan bodohnya saya hanya manusia yang penuh alpa….

Kembali…. Pada hakikatnya semua akan KEMBALI. J


YOGYA - 23 Agustus 2013 
03.59

Sunday, July 21, 2013

Pulang



Dan pagi tak pernah kembali terang lagi
Aku terbungkus berlusin kenang
Jejaki harap, inikah palsu?
Bagaimana bisa kau begitu saja pergi..
Kau bilang kala itu ‘I will never let you go..’
Dan bibir mu bahkan katakan “lupakan aku”

Boneka lusuh ku ini teriak nama mu..
Jadi rupanya, tak hanya aku yang merindu.

Hai Bodoh, kau bawa semua dunia ku
Harus apa aku kini ?
Topeng ku sudah habis.. bisakah kau pijamkan sebentar saja ?
Habislah kata, ini namanya penjara dan aku tak ingin bebas, lupakan kuncinya
Aku tak bisa kemana-mana..
Bahkan untuk pergi, mencari mu…
Tolong, kembalilah suatu hari nanti..
Jenguk aku sebentar dalam nisanku, jika berkenan…

Bukan mati karena mu, hanya mati tanpa mu…



19 juli 2013

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kamu pulang..
Sebentar saja, mendekap ku erat, memeluk ku hangat.
Entah.
Nafas mu, detak ku.
Bahkan aku lupa kapan terakhir kita sedekat itu. Hati.

Aku tahu, kau tidak akan pernah begitu saja pergi. Aku pun.
Dan minggu pagi kita.
Embunnya.
Bulan yang jingga.
Aku ingin selalu memeluk.
Seperti tangan mu yang tak dingin.
Karena kau. Aku.
Selalu berapi. Masih.

Tak ada yang pernah lari..
Sampai tiba pada legenda milik kita….
Maka aku berpuralah, seperti mu..
Karena memang, selalu cukup kita. Saja.

Cinta. Setidaknya begitu yang aku percaya. 


Halte




Gerimis mencium ku diam – diam. Matanya melirik ku perlahan. Mata siapa? Tatapan dalam rintiknya. Seperti aku yang dalam diam memuja yang aku bilang matahari pagi. Pukul 06.00 sudah tiga ratus lima belas hari aku duduk disini membawa buku catatan  yang semakin lama makin dekil.  Disini sepi, hanya ada aku dan anak kecil dengan seragam SD basah kuyup, tangannya menggenggam erat payung warna violet dengan logo salah satu operator seluler. Giginya bunyi gemeretak. Anak lelaki itu mungkin umurnya tujuh tahun. Hey, dia mendekatiku.. 

“kakak, mau menyebrang? ”

“tidak aku mau duduk disini saja”

“kenapa tidak menyebrang saja?”

“kenapa aku harus menyebrang ?”

“hari ini hujan sepi”

“karena hanya gerimis”

Aku mengambil payung dari anak itu, melipat payungnya, wajah ku terkena cipratan air hujan yang menempel dari payung violetnya.

“sini duduk saja”

“ah tidak, baju ku basah”

Aku membuka jaket abu-abu ku dan memakaikannya pada anak itu

“dingin ya?” Tanya ku

“iya, tadi. Sekarang hangat”

“sudah duduk disini saja.. “

Aku berdiri, pergi meninggalkan anak itu sendirian, kurasa lembar biru di kantong jaket ku cukup untuk mengganti sepinya hujan tanpa penumpang ojek payung.

“kakak mau kemana..?”

“beli jaket baru…”

Aku meninggalkan anak itu di halte bis ini sendirian, anak itu tersenyum manis sekali, dengan jaket ku. Dan bibir ku pun tak tahan untuk tersenyum  semanis dia. Setidaknya kini ia telah hangat bersama gerimisnya. Dan aku juga.

Di ujung persimpangan sana, ternyata ada yang sedang menunggu ku sedari tadi.  



Friday, June 7, 2013

Pagi, Bara...

Kembali pada abjad yang menumpuk di ujung jariku... Aku tak pernah sendirian, seperti yang aku pikirkan. Hujan, malam, dingin selalu membelai mesra ku.

Hampir subuh tadi, ketika aku lelap.
Aku lelap terlalu dalam selama ini.... Seolah tidur ku adalah tidur nyenyak, bantal guling, selimut hangat. Dan ternyata aku sedang tidur telanjang, dingin sampai ke tulang. Bisu sampai ke ujung rambut, malu melapis didalam pori-pori kulit...

Lantas, banyak hal yang tak ingin ku tahu, tak perlu ku tahu. tapi semua menunjukkan dirinya, semakin liar, aku semakin terpojok.
satu persatu hadir; pengkhianatan, rasa tak sabar, kisah baru mu, rindu mu yang pahit, aku harusnya tak tahu, semesta berkata lain; aku mesti tahu dan ditunjukan...

Air mata ku sering jatuh akhir-akhir ini, seperti yang kau bilang tentang empati.
Tahukah kau aku begitu benci dengan kata-itu?
Kau tak berhak mengeluarkan kata itu untuk ku... Kau tak berhak iba pada ku, aku tak butuh.
Semua sakit subuh lalu, atas kehilangan ku; kehilangan mu, kehilangan dia... Ah sudah lah, bukannya aku akan terbiasa.
Semua tentang waktu yang akan menyembuhkan, entah kapan.
Jumpa, rasa. Cinta, hidup, mati, dan kembali mati. Semua sudah tentu ada lembar yang telah tertulis.
Tentang aku, tak mau lagi mencoba tahu tentang mu.

Hampir subuh,
Aku terbangun.
Melihat mu, dia, dia, dia, didalam mimpi ku, mimpi mengoyak lelap ku, memaksa ku mengisi sakit lagi, kenapa pada akhirnya tak ada jeda?

Sesungguhnya, hingga detik ini, hari ini, tak pernah sedetik pun aku membenci mu, aku hanya marah, marah atas diriku sendiri, jangan lagi bicara cinta, cukup aku saja yang tahu rasanya.
Cukup aku saja yang merasakan sulitnya ingin tidur dan sakitnya ketika bangun, cukup aku yang tahu bagaimana ketakutan ketika bermimpi...
Aku ingin selalu tertidur, tanpa mimipi, tanpa takut, tanpa bangun, hanya sambil mendekap BARA ku yang masih saja hangat....

Lalu kau diam-diam mengendap pergi, selamanya, dengan jaket jeans mu yang robek-robek, seperti pertama kali kita bertemu, tak mengenal, hingga kita akan kembali lagi untuk tak saling mengenal.
Bukankah begitu hakikatnya perjumpaan, selalu ada selamat tinggal setelah ada selamat datang.

Aku tak berharap lagi kita akan bertemu di stasiun yang sama, sudahlah.. Kenang semakin memukul ku hingga lebam-lebam.
Cukup saja, menahan sendirian.
Seperti yang kau bilang, tak akan adalagi sampai jumpa, meski tiba masa, karena selesai, maka selesai. Kalimat yang habis maka habis.

Akhirnya aku kelelahan, menangis semalaman.
Rasanya seperti kau memelukku dari belakang, seperti biasnya; hangat, lalu membakar, hingga kau mencabik-cabik ku, lalu aku terlelap lagi, air di ujung mata, ku hapus saja.
Dan kau sudah berlalu mengacaukan cerita-cerita pendek yang sudah ku tulis.



7 juni 2013
_semua tak akan bisa mengembalikan apapun_
Tak akan bisa.