Sore pun mengiri pagi
Pasang di kemudian matahari bergegas lekas
Tak surut tertumpuk kenangan bisu membias
Tangis ini enggan beranjak, senyuman ini berikhlas sabar
Bahwa kita akan bertemu lagi suatu pagi; entah kapan
Usaikan catatan tak selesai terbaca; terpahami
...Duduk dipinggir jalan suatu sore
Memacari semu pagi kita diujung ranjang
Ucap sampai jumpa untuk matahari
Memaksa bulan pada kata selamat tinggal
Tak peluh karena kau telah bergegas pergi, kini memoar terbang cantik dalam kepala
Kepakan sayapnya, larikan harapnya
Air yang menetes dari kelopak mata kita
Candukah untuk selalu bersama mu, sang penggiring mimpi
Tanpa kau pernah buka kepala mu dan batu berserak disana
Akhirnya jalan kita penuh kerikil
Dan aku tak hati-hati berpijak
Bukan khilaf mu, semesta ini salah ku
Jadikan hati untuk melangkah, bodoh; adanya itulah nyata ku
Lalu aku seok benahi hati karena kepala batu mu yang kau harap jadi permata
Dalam sore pun semakin lirih berteriak.
30 april 2013
Jalan cincin jogja
Ini adalah surat cinta tentang sebuah sungai, dimana mengalir dari hulu ke hilir, ke pantai lalu ke samudera. tapi aku adalah kebalikan. Ini adalah surat cinta diam-diam, untuk kamu yang bisa membaca tanpa bisa menerjemahkan. ini aku yang membacamu, dan aku suka.
Tuesday, April 30, 2013
sweetest memories
Sunday Morning...
Terima kasih untuk bubur ayam terenak se-jogja yang kamu bawakan pagi ini;
Terlebih kudapan dalam kecupan manis dan 'selamat pagi'-mu...
Aku membuka mata ku, melihat mu diujung ranjang, berbinar.
Benarkah aku temukan binar itu disana? didalam bola mata mu.
Kamu, harum embun pagi, bias matahari yang mengintip kita, dua mangkuk bubur ayam hangat, dan dua kopi panas. dan aku bermandi keringat sebesar biji jagung; ya, dada ku berdegup kencang.
Jika perempuan mu yang lain bilang 'bunga mawar' mu itu romantis, aku patut sombong padanya.
Karena; pagi ini bersama mu lebih dari romantis.
Hanya aku dan kamu. tak ada yang lain lagi, semoga.
;bisakah selalu ada kecupan selamat pagi mu, morning sunshine....?
.... someday.
-----------------
Selamat pagi selatan jogja.
14 April 2013
Terima kasih untuk bubur ayam terenak se-jogja yang kamu bawakan pagi ini;
Terlebih kudapan dalam kecupan manis dan 'selamat pagi'-mu...
Aku membuka mata ku, melihat mu diujung ranjang, berbinar.
Benarkah aku temukan binar itu disana? didalam bola mata mu.
Kamu, harum embun pagi, bias matahari yang mengintip kita, dua mangkuk bubur ayam hangat, dan dua kopi panas. dan aku bermandi keringat sebesar biji jagung; ya, dada ku berdegup kencang.
Jika perempuan mu yang lain bilang 'bunga mawar' mu itu romantis, aku patut sombong padanya.
Karena; pagi ini bersama mu lebih dari romantis.
Hanya aku dan kamu. tak ada yang lain lagi, semoga.
;bisakah selalu ada kecupan selamat pagi mu, morning sunshine....?
.... someday.
-----------------
Selamat pagi selatan jogja.
14 April 2013
Thursday, February 28, 2013
karena aku hanya bisa menulis ...
Andai aku bisa
menggambar, akan aku gambar raut wajah mu yang tak pernah ku lupa.
Andai aku mampu
melukis, akan ku lukis cerita kita yang selalu ku simpan.
Tapi aku hanya
bisa menulis.
Menuliskan mu
dalam setiap kata dan kalimat yang tak pernah habis. Dan aku simpan baik-baik
dalam filing cabinet, menandai laci nya dengan sebuah kategori RAHASIA.
Tak ada
yang boleh membuka bahkan diriku sendiri, karena setiap abjad yang aku tulis
tentang mu tak bisa aku jelaskan apa itu namanya karena aku tidak ingin tau,
seperti malam ini, aku menuliskan mu, tulisan yang biasa, seperti cerita kita
yang menjadi biasa saja.
Filing cabinet telah ku tutup, ku segel, jangan dibuka
lagi, meski aku ingin menangis dan tak
mampu, maka aku menulis tentang mu saja.....
Take me away...
Kesepian itu
rasanya tidak enak.
Bodohnya saya;
saya lupa pada mimpi-mimpi saya sendiri, lupa pada kemampuan saya, tidak tahu
apa yang harus saya lakukan.
Dan ini sangat
menyiksa. Saya.
Bahkan saya tidak
pernah lagi bangun pagi dan menikmati matahari pagi, lupa pada harumnya bau
tanah basah karena hujan, lupa pada indahnya senja. And my whole life.
Apa saya harus
memulai lagi belajar hidup?
Caranya...
1.
Sabar
2.
Sabar lagi
3.
Sabar terus
4.
Sabar yang banyak
5.
Ikhlas
6.
Bersyukur
7.
Bersyukur lagi
8.
Bersyukur lebih banyak
9.
Bersyukur terus
10.
Ngebeer!
Jadi, mari mencoba
berteman hidup bersama beer! Sampai tiba saatnya saya bisa lagi berjalan
sendirian sambil bersiul-siul kecil meniklmati kesakitan yang akhirnya menjadi
indah. Ups, saya lupa, saya tidak bisa bersiul...
Sebelum itu,
siapakah yang bersedia menemani saya menikmati sebotol beer disini? Karena saya
benar-benar sendirian.
end of story..
| memastikan, semua biasa saja. |
Satu persatu
cerita telah selesai.
Aku jadi
teringat kata-kata seseorang yang ku temui dan membaca garis tangan ku... "Cerita-cerita akan selesai".
Bukannya aku berpatokan pada sebuah ramalan, hanya saja rasanya benar.
Seperti malam
ini… Aku dan firefly bisa bersama lagi -sekedar duduk didalam lingkaran yang
sama dan menikmati sebotok arak kalimantan-
kami diantara para sahabat, dia begitu dekat didalam pandang ku, tapi
ya, tatapan matanya terasa jauh, tidak
untuk ku..
Dan aku harus
sadar, semua berubah, berakhir.
Kami akan jadi
sangat biasa.. Lebih dari biasa saja
- itukah yang terbaik?
Aku tidak
mengerti bagaimana hati mampu bekerja sedetail ini dan seperasa ini…
Aku begitu
mencermati semua laku dan ucapannya.. Dan makin terasa jauh. Tapi aku
merasakannya, ditatapan itu, ada sesuatu
yang disembunyikan. Entah apa.
Seperti yang
dia katakan semalam "ayo gunakan intuisi mu.." Aku terdiam. Dan
akhirnya selesai. Aku menyimpulkan semua memang harus selesai. Cerita-cerita
usai..
Aku dan hujan
desember, aku dan malam, akhirnya kunang-kunang. Aku ingin memasukkan cerita
ini kedalam peti dan ku tutup rapat-rapat. Agar tak perlu ada sakit lagi.
Mungkin yang
paling benar adalah... Kami tidak perlu
berteman lagi, cukup dekat dan sangat dekat lagi, tidak perlu; bila ada
kesakitan yang aku rasakan dan ini untuk semua cerita ku.
Bukankah aku
sudah terbiasa begini...?
bersama cerita
yang selalu usai... Ya aku sudah terbiasa, tapi mungkin akhir-akhir ini aku
hanya lupa caranya.
Wednesday, February 20, 2013
Kencan bertiga; Saya, Firefly dan Beer!
Apa
saat ini kunang-kunang saya telah kehilangan cahayanya…? Untuk saya…?
Sudah
dua hari ini, saya benar-benar ingin bertemu pacar saya…Beer! :)
Biasanya
kami kencan bertiga; saya, beer dan firefly –si anak kecil, yang selalu
menganggap saya tua-. Apapun bisa kami bahas; kadang hal ga penting, kadang
bisa menguras air mata dan kadang tertawa terbahak ga jelas, apapun.
Seringkali
dia tiba-tiba ada diteras rumah saya; ngajak makan siang, pamit pergi, atau
sekedar main dan ngebeer!. Kadang kita bertemu tidak sengaja di minimarket, di
tempat makan atau saat saya lagi ngebeer bareng teman-teman saya.
Tapi
firefly saya hilang entah kemana sekarang. Sepertinya begitu. Lagi-lagi karena
saya, seperti biasa. Andai saja, saya tidak membahas hal yang sangat sensitif
diantara kami –soal perasaan- tapi toh akhirnya saya membuka wacana tentang
itu, hingga akhirnya –sepertinya- kenyamanan antara kami berkurang, firefly
saya pun terbang bebas.
Hmmm…
saya sama sekali tidak bisa mendeskripsikan peraasaan saya untuk dia. Tidak tau
dan sangat tidak mau tau, apa namanya; cinta…? Bukan!
Jangan
paksa saya mengetahui perasaaan apa yang saya rasakan untuk dia. Karena saya tidak
ingin tahu.
Simplenya
begini, kadang saya merasa, dia mengerti apa yang saya rasakan tanpa saya harus
banyak berkata. Mungkin termaksud bagaimana kebingungan saya tentang perasaan
ini, makanya kami saling menutupi soal perasaan kami, saya pun tidak mau tau
bagaimana perasaan dia untuk saya, atau mungkin perasaan dia untuk cewek lain
yang dia suka, terlebih saya tidak berani bercerita tentang Hujan Desember atau
siapapun yang datang dihari-hari saya. Soal rasa, benar-benar kami tutup.
Hanya
bodohnya, kenapa saya harus bicara soal kebingungan saya sama dia.. dan
akhirnya, kami sama-sama kebingungan.
Saya
benar – benar ingin beer malam ini; seperti saya ingin dia ada disisi saya
ketika saya jatuh, dan air mata saya betul-betul tumpah didepannya, saya
bener-benar ingin beer seperti ingin dia datang menemani saya saat saya
sendirian dipinggir jalanan jogja ketika itu, saya ingin beer; seperti dia menyelamatkan
saya dari kesendirian saya tanggal 19 November lalu, saya ingin beer; seperti
saat kita hujan-hujanan bersama. Saya ingin beer; seperti ketika dia datang
membawakan saya dua botol beer lengkap dengan kacang kulitnya.
Apa saya salah, ketika saya bilang ‘Dunia seolah
berhenti sesaat ketika saya melihat kamu…’ , dan saya bertanya… ‘ kenapa bisa
seperti ini…? ‘
Kami terdiam. Saya tidak bisa bicara lagi, dan
dia juga tidak bicara.
Apa saya harus lahir di Tahun 1994 agar saya masih bisa menikmati beer bersama firefly saya lagi…?
Atau
semua perbedaan ini…? Perasaan yang
sangat absurd inikah…?
Harusnya…
saya tidak pernah berbicara hal itu.
Dan malam ini, saya sangat merasa kehilangan dia…
Kunang-kunang yang datang membawa setumpuk komik
dimalam Tahun Baru, dan muncul diteras saya membawa sebotol beer ketika saya
sudah mulai kehilangan cahaya.
Malam
ini, saya teringat saat-saat kencan bertiga kami; Saya, Firefly dan buih beer...
Ini apa namanya…?
……
aku ingin minum beer, bersama kamu, firefly.
20
Februari 2013
Monday, January 21, 2013
Review film: Never Let Me go
Sutradara : Mark Romanek
Produser : Alex Garland, Andrew Macdonald,
Allon Reich
Penulis : Alex Garland (screenplay), Kazuo
Ishiguro (novel)
Pemain :
Carey Mulligan, Keira Knightley, Andrew Garfield, Isobel Meikle-Small, Ella
Purnell, Charlie Rowe, Sally Hawkins, Charlotte Rampling, Nathalie Richard,
Andrea Riseborough
Musik : Rachel Portman
Sinematografi : Adam Kimmel
Editing : Barney Pilling Studio
DNA Films/Film4/Fox Searchlight Pictures
Distrisi : Fox Searchlight Pictures
Waktu : 103 Menit
Review
Film
ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama ‘Never Let Me Go’ karya penulis
asal Inggris Kazuo Ishiguro yang dirilis tahun 2005.
Novel
ini banyak mendapatkan pujian dari banyak kritikus dunia literasi. Dan juga
TIME Magazine menggelarinya novel terbaik di tahun 2005 dan memasukkannya dalam
daftar TIME 100 Best English-Language Novel from 1923 to 2005.
Sebuah
kisah tentang manusia produk cloning disebuah sekolah asrama, Hailsham, jika
berbicara tentang cloning atau kecanggihan teknologi didalam film ini tidak
dapat ditemukan property sci-fi meski bisa saja film ini dikategorikan sebagai
film fiksi ilmiah (science-fiction) tetapi penonton akan mendapatkan kisah
mellow-drama yang membuat penonton menginterpretasikan sendiri bagaimana
perasaan dari setiap tokoh.
Aspek
editing sangat membantu menciptakan plot yang halus dan suasana menjadi
terkesan lambat untuk memberi ruang bagi penonton merasakan alur cerita dari
film ini.
Sinopsis
Berkisah
tentang cinta segitiga antara Kathy (Carey Mulligan), Tommy (Andrew Garfield),
dan Ruth (Keira Knightley).
Mereka
adalah ‘produk klonik’ yang diciptakan untuk mendonorkan organ-organ vital.
Mereka diciptakan untuk kehidupan orang lain dan tidak memiliki hak untuk hidup
mereka sendiri.
Hailsham
adalah “sekolah” para produk cloning in, dengan setting tahung 1978 Hailsham
tidaklah seperti sekolah umumnya mereka diajarkan nilai-nilai “pengorbanan” dan
diisolasi dari dunia luar, dengan banyak cerita-cerita tidak masuk akal tentang
‘dunia diluar gerbang Hailsham’.
Mereka
adalah sebuah ‘produk’ yang dijaga kualitasnya, diberi asupan gizi yang baik,
kontrol kesehatan yang bener-benar diperhatikan serta tidak diperkenankan
merasakan ‘kebahagiaan’ dunia luar.
Sampai akhirnya seorang guru (atau “guardian”) membocorkan fakta pahit
tentang mereka dan penonton pun mengerti babak pertama tentang hidup mereka.
Kathy
yang masih muda malu-malu jatuh cinta pada Tommy, dan Tommy juga membalasnya
dengan malu-malu. Cintanya monyet keduanya hanya sebatas malu-malu-kucing,
Hingga akhirnya cinta monyet keduanya buyar ketika Ruth menggandeng tangan
Tommy.
Kemudian
film meloncat tujuh tahun selanjutnya, di mana ketiganya sudah mencapai
kedewasaan dan diharuskan keluar dari Hailsham menuju The Cottage, semacam
tempat persinggahan“mereka”sampai akhirnya waktu pendonoran tiba.
Selama
itu Kathy tetap memendam cintanya pada Tommy yang sudah menjadi milik Ruth.
Ketiganya dihadapkan pada berbagai macam masalah di masa ini, seputar origin
(manusia sumber DNA mereka), seputar rahasia dibalik Hailsham, bahkan seputar
permasalahan cinta segitiga mereka yang semakin rumit.
Babak
terakhir, seperti embel-embelnya “Completion,” mengambil latar sembilan tahun
kemudian. Di masa ini, Kathy, Ruth, dan Tommy sudah berpisah satu sama lain.
Kathy bekerja sebagai “carer” (perawat bagi para “pendonor”) sampai waktu donornya
tiba. Babak terakhir ini bercerita reuni antara Kathy, Ruth, dan Tommy. Dilema
cinta segitiga mereka pun dituntaskan di babak di sini.
---
ANALISIS EDITING
Film
dimulai dengan adegan Kathy H berdiri sendirian menyaksikan Tommy D yang
tergeletak dimeja operasi menunggu untuk dilakukannya donor organ, penonton
diperlihatkan ‘eye contact’ antara Kathy dan Tommy, diisi dengan voice over
Kathy tentang pandangannya tentang hidup, bahwa tidak ada lagi visi untuk masa
depannya, kisah Tommy dan Ruth, voice over diisi dengan montage menampilkan
tokoh-tokoh itu ketika mereka bersekolah di Hailsham, voice over juga
menggiring untuk masuk ke Flashback Setting Tahun 1978 dengan scoring suara
nyanyian anak-anak Hailsham mengantarkan penonton memasuki kehidupan Kathy dan
alasan Kathy mengapa ia berdiri sendirian di Rumah Sakit itu.
Tiga
fase waktu membagi film ini; Saat mereka anak-anak (tahun 1978), Kehidupan
mereka di The Cottage, dan Tahun 90-an masa dimana semua konflik akhirnya
terjabarkan. Meski pun memiliki tiga fase tetapi teknik continuity cutting
tetap mendominasi. Kesinambungan antara frame satu dengan yang lainnya sangat
terasa dapat disaksikan didalam adegan awal ketika Kathy berdiri sendirian
memandang Tommy yang tergeletak dimeja operasi, sebelum Tommy mendapatkan
suntikan obat bius tommy dan Kathy sempat melakukan ‘eye contact’, hingga
flashback memasuki tiga fase tersebut, diakhir cerita dijelaskan bahwa itu
adalah ‘eye contacr’ terakhir Kathy dengan Tommy sebelum tommy meninggal, meski
tidak diceritakan apa yang terjadi pada tommy setelah menjalani operasi dan
adegan itu juga yang menghantarkan Kathy
kedalam “babak baru” menyingkapi hidup – fase terakhir-.
Plot
yang lambat dan membuat penonton “berfikir” dari setiap adegan, dialog, serta
ekspresi, dibutuhkan kepekaan tersendiri untuk memahami dan menikmati film ini.
Suasana ‘smooth’ seolah memberi ruang bagi penonton untuk menelaah dan meresapi
setiap dialog dan makna yang dileparkan oleh penulis naskah. Salah satu contoh
dari continuity cutting dapat dilihat dari saat adegan Ruth kecil bercerita
mengenai “perubahan tommy” dan tatapan Ruth saat Kathy dan Tommy bersama, semua
adegan mulai berhubungan dan terjawab ketika Kathy menyaksikan ruth dan tommy
bergandengan tangan dan berciuman di scene yang lain.
Sebagai
sebuah film cinta dan konflik yang kompleks didalam diri masing-masing tokoh,
film ini mengajak penonton merasakan sendiri dengan membuka mata dan hati.
Penggunaan
teknik editing film seperti Paralel dapat dijumpai dibeberapa scene seperti
ketika Ruth, Tommy dan Kathy memutuskan menjalani hidup masing-masing, tommy
dengan kesendiriannya di padang rumput, Kathy memutuskan untuk mengikuti
program “perawat” dan pergi meninggalkan The College.
Montage
– montage juga banyak ditunjukan dan menambah efek semu didalam film ini,
karena film ini menyiratkan kesemuan hidup tokoh – tokohnya.
Penonton
harus memahami dialog dengan seksama para tokoh agar dapat mengikuti alur
cerita film ini, karena film ini memiliki sedikit “adegan bercerita” –tidak
juga movie talk- serta memahami setiap frame yang berkesan sederhana tetapi
memiliki banyak arti (contoh, montage – para siswa berbaris mengambil susu
secara teratur- monoton, menunjukan keteraturan dan “hidup yang sudah
diprogram”) Jika tidak penonton akan lepas dari pemahaman cerita. Itu adalah
kelebihan dan kekurangan dari film ini ketika sebuah cerita yang kompleks dan
detail dikemas dengan halus dan sederhana,
Penonton
disini hanya sebagai penonton, karena cerita tidak mengemas penonton untuk
menjadi dan merasakan “inside” tokoh, hingga bisa saja terjadi salah
interpretasi begitu pula dengan editingnya sedikit sekali menempatkan penonton
sebagai ‘tokoh’ (point of view). Sebegai penonton yang tidak diperkenankan
memasuki cerita tentunya akan terasa kurang mendapatkan emosi dari cerita
sangat membantu dengan music yang menciptakan suasana melankolis itu.
Gambar
yang kosong mampu menciptakan suasana “emptiness” tentang pandangan hidup,
kehilangan meski terasa seperti ada “ruang kosong” ditengah tempo yang berjalan
lambat.
Jika
sutradara memang ingin menepatkan kehampaan didalam “Never Let You Go” maka
sutradara cukup baik mengeksekusi cerita ini sebagai film cantik yang hampa.
Sunday, January 6, 2013
CERITA 49 HARI
CERITA 49 HARI
My First Day
... Tak pernah ada jalan mundur untuk maju ..
Quote ala gue sendiri yang selalu jadi acuan gue untuk tetap bertahan, kemarin.
perpisahan sudah dilakukan.
Gue sudah kembali ke jogja, finally..
Ga ada lagi; kediri, Klaten, Semarang, Kendal, Ambarawa, dan Solo..
(Semarang oh semarang.. :'))
Tak ada lagi, call SHIT! Tak ada lagi Calling- jam 6 pagi, pertanyaan 'on loc' jam berapa, teriakan suara 'nunung.. Monitor', bercandaan porno yang awalnya risih jadi ketagihan (brain wash abis) dan tak ada lagi kelelahan yang teramat sangat.
Tapi... Semua itu seperti candu. Gue mau lagi.
Walaupun tau itu hanya terjadi sekali seumur hidup.
Lebay ya..?
Mungkin iya menurut orang yang ga ngerasain, menurut gue. Semua yang gue rasakan hari ini, seimbang dengan apa yang terjadi disana.
Di mulai di tanggal 1 November. Dengan t-shirt ala ala susah bergerak, jeans dan sendal jepit.
4 take pertama adalah kebodohan yang harus gue kenang seumur hidup; ya... Mesti belajar lebih baik.
gue ini ceritanya adalah seorang anak magang di divisi script cont. Dalam film sang kyai.
Nama gue.. Oval Roy, biasa dipanggil begitu.
Sampe ketika hari itu, bang acel entah kenapa merasa gue miirip nunung ovj dan... Di panggilah gue dengan nama .. 'Nunung'
Yang awalnya gue kesel abis, jadi kangen gila di panggil itu! Ups.. Tapi tetep ga ada yg boleh manggil gue 'nunung' selain crew sang kyai...! :p
Minggu2 pertama gue laluin.. Berat mama :'(
Seberat-beratnya hidup.
Banyak titik dimana gue sadar.. Gue ini masih bego banget dan ga tahu apa-apa; entah soal hidup atau pun film.
Gue bener-bener belum ada apa-apanya.
Gimana engga, ngeKlep aja gue bloon banget. Selalu salah. Setiap mau Take pertama saat ganti shot, gue ribet sendiri, mikir, nanya dan ujung2nya salah juga.... *bego kan.
Dan... Hari ke 3 atau ke 4 syuting udah syuting sampe jam 6 pagi dan calling-an lagi jam 11, capeeeek bangeeet. Tapi lama-lama, yang disebut capek dan stress udah ga berasa bukannya ga cape lagi, tapi lebih tepatnya mati rasa.
tapi semakin hari semakin terasa kalo ini semua perjalanan ini seperti memberi spirit baru dan motivasi baru buat gue.
seolah seperti titik balik.
gue bertemu banyak orang yang luar biasa.
dan motivasi gue terbesar untuk ikutan ini adalah "untuk mama dan papa" yang akhirnya luar biasa
ahhh.... rindu sekali rasanya dengan semua situasi disana.
rindu air mata, rindu teman se-team - mas paunk- oke... gue bertemu satu virgo lagi didunia.. :)
makasiii mas.... banyak hal yang lo kasih ke gue tanpa lo sadari, lo kakak gue banget deh. hihi.
maaaf untuk semua keribetan dan ketololan gue, tapi lo bener-bener ada buat support gue. selalu.
*gue dan Rendy Paunk....
:D
OKEEEE NUNUNGGG....
OKEEE SATE...
Begitu banyak nasihat dan pelajaran yang gue terima, ga cuma soal film tapi soal hidup dan cinta. :)
Dimana Seharusnya
Karena ternyata malam adalah kepura-puraan yang indah
Dimana senja menjadi ungu tak lagi jingga
Tak lantas berubah elok antara lampu-lampu menggenit
dalam gelap yang semestinya semu
Nyatanya malam adalah dunia mu, dunia ku
Ketika tak mampu ku lihat sinaran yang ada hanya lampu jalan memaksa terang
Cahaya-cahaya redup
Segelas kopi
Meramalkan apa yang terjadi esok
Pagi kah akan tiba?
didalam kepura-puraan yang baru
Hingga menyongsong apa yang kau sebut mimpi. Dan kusebut cita.
------
Selatan yogya
5 januari 2013
18.42
Dimana senja menjadi ungu tak lagi jingga
Tak lantas berubah elok antara lampu-lampu menggenit
dalam gelap yang semestinya semu
Nyatanya malam adalah dunia mu, dunia ku
Ketika tak mampu ku lihat sinaran yang ada hanya lampu jalan memaksa terang
Cahaya-cahaya redup
Segelas kopi
Meramalkan apa yang terjadi esok
Pagi kah akan tiba?
didalam kepura-puraan yang baru
Hingga menyongsong apa yang kau sebut mimpi. Dan kusebut cita.
------
Selatan yogya
5 januari 2013
18.42
29 Desember 2012
Sore itu deras berjalan diantara kita, aku menunggu mu datang menjemput, seperti bingkisan senja, kau pun tiba...
Melepaskan aku dari suram; kita melaju bergegas...
Menyertai aku dalam arah sekilas.
Dan Hari ini. Tak ada lagi kamu.
Malam itu, gerimis memayungi kita. Kau berikan genggaman tangan hangat mu untuk ku...
Bermanja pada nestapa.
Dan Hari ini. Aku tak tau apa kau masih ada.
Kita ini, dua manusia kelelahan.
Menatap sombongnya dunia dan perihnya langkah.
Luka di kaki dan hati kita adalah pengikat
Kau dan aku yang bertemu didalam satu rasa. Cinta?
Benarkah?
Sore ini, ketika aku terbangun dalam lelap
Kamu mengganggu mimpi ku
Kau lupa telah menitipkan banyak mimpi dalam langkahku, bagaimana aku bisa membiarkan mimpi mu ini terus terbaca sementara kamu tak kembali mengambil cita mu
Benarkah?
Apa kita akan terhenti di langkah ini?
Selesaikah hangatnya gerimis yang pernah membelai kita
Apakah aku tak lagi bisa mendengar denyut jantung dan deru nafas mu....?
Aku tak akan pergi meski kau tak menahan ku untuk tinggal
Selatan Yogya
29 Desember 2012
19,31
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)






