Wednesday, October 26, 2016

Yogyakarta, Mei.

ini bukan perkara antara bandara dan udara
ini soal aku saja.
bukan cinta permata apalagi tahta.
ini soal hati saja.


Tadi di langit aku menitipkan mimpi, pasti tidak akan jatuh berdebam lagi.
Tapi jika mimpi ku luruh menjadi butir hujan.
maka aku mengembalikan lagi berupa do'a dari bumi.
dan kau pasti tahu; antara kita dan mimpi, 
hanya do'a ku yang abadi.


(22 Mei '16)

Wednesday, February 24, 2016

Post : Henti.


"dan kau harus berhenti melangkah..”
membuang peta yang telah kau rancang sendiri
"mengubur mimpi yang telah kau tulis sendiri
apa karena hati mu sakit maka kau akan berbalik arah..?"

ya aku pikir begitu
ini adalah obrolan antara aku dan kepala ku yang penuh
tapi mungkin ku tahu hati ku tak sekuat itu, aku tak sekuat itu untuk berpura baik-baik saja
aku pun tak sekuat itu untuk berpura bahwa tak ada luka disetiap keringat ku.

maaf, aku menjaga hati ku dari dendam
jadi ku urungkan saja berjalan lagi.
sampai berhenti di sebuah lorong lembab yang gelap

sambil bertanya-tanya, kemana lagi aku harus melangkah?



Goa belanda, Bandung

13 februari 2016 

Post : Titik.

padahal sudah ku katakan; bahwa saja yang ku kerjakan ini bukan untuk diriku sendiri
padahal sudah ku katakan; jika ini semua terlalu menyakitkan maka ku pergi

kau bisa menghitung sendiri, apa yang sudah ku keluarkan dari setiap tetes keringat ku, juga air mata lelah ku
mereka semua boleh bilang aku cengeng, aku memang tak sekuat itu lagi, aku sama saja seperti yang lain.
yang lain..? iya yang lain, manusia yang lain, alasan ku untuk tetap bertahan.

ini bukan perkara berapa kantung emas yang aku dapatkan, tapi ku pikir ini tentang pengorbanan, bagaimana bisa, sesuatu yang kau anggap begitu menyenangkan berubah menjadi sesuatu yang mengecawakan

kau, yang katanya teman ku, yang kau bilang  aku paling mengerti kau, tapi akhirnya aku tahu, bahwa kita tak pernah saling mengenal. kau tak mengenal ku.

maka mungkin, aku dan seluruh dunia ku tak akan sama lagi, aku akan sulit percaya kau lagi.

karena ku rasa; apa yang ku rasa dan yang kau katakan tak sama dengan yang aku lihat dan aku dengar, sekalipun tidak langsung dari mulut mu, tapi semburat senja memberi tahu ku, bahwa matahari terbenam bisa saja tak seindah yang pernah ku ingat



Bandung, 13 Februari 2016 

And now the final frame - Love is a losing game




ada lubang besar yang tak ku tau ada dimana..
ada kalimat yang tak mampu ku tulis
ada bait yang tidak selesai ku ucapkan

sesak, tiba-tiba menyusup, aku ingin kau tahu bahwa aku bahagia, bukankah ku bilang jika aku pun bahagia melihat kau..
ini hanya tentang diriku saja, yang masih mencari potongan kenang didalam nisan kita .
ah tragisnya..

seperti setiap malamnya sebelum ku tidur, lampu kamar ku mati, gelap. aku mendandani luka ku, berharap kau menyebut nama ku, sekali. hanya itu.

Lalu aku terlelap, didalam sebuah lapangan yang luas, didalam mimpi ku: kapal itu menunggu mu lekas berangkat; kau dengan ransel hitam mu; aku menatap kau yang berdiri ditangga, kura-kura berenang dibawah kapal tongkang itu, kau bilang; aku ingin pulang ke laut, agar lepas dan kau bisa menunggu ku bagai pasir menunggu dijemput ombak. Padahal kau tidak suka laut. Kau hanya pulang – itu saja.  Kau membual aku mual, kau tersenyum di kejauhan, aku menatap mu: mencoba memahami apa yang ada didalam kornea.

Aku terus menatap dari jauh.. sambil mencoba menyampaikan pesan ku, terselubung.
“dapatkah membawaku pulang...?
pulang kedalam pelukan mu.
sayang. bolehkah aku duduk lagi disamping mu..?
bercerita tentang aku hari ini.
bagaimana kala kau ada luka ku perlahan pulih, kau bukan obat tapi kau penenang.”

Kemudian kau memalingkan muka, aku melihat seorang gadis yang mirip seperti ku, mungkin- menunggu mu di ujung bola mata- aku melihat bayangannya.

Aku terbangun.

Aku, sudah tidak ada disana, aku hilang dari mata mu.

Ini sungguh mimpi yang buruk. Aku rasanya tak sanggup lelap lagi, aku coba mengingat siapa gadis yang ada di sana, di pandangan mu, ah, aku tolol, rindu itu sudah keterlaluan, bahkan do’a pun sudah tak membantu ku, ketika aku tak lagi disana, hanya satu yang aku rindukan..

“bolehkah sekali lagi kita saling menatap. tatapan yang aku tahu disana ada mimpi ku,
dan hilang saat kau terpejam..”
... dan hilang.

Kau telah pulang ke pelukannya.



**mendengarkan Love Is a Losing Game by Amy Winehouse

Utan Kayu, 23 Februari 2016 

Untuk Dalu, (ini Rahasia)





** If time is all i have - James Blunt 


Aku membuka lagi apa yang ku tulis enam tahun yang lalu, waktu itu aku bilang bahwa kau adalah setiap huruf dari kata yang ku tulis.

maka aku rajin sekali menulis, buku harian ku penuh dengan kamu yang manis dan kamu menyelinap tersenyum. 
dan aku menulis apapun yang kulihat agar ketika kau tidak ada disampingku kau bisa tahu apa yang aku alami. sebagaimana aku yang hobby sekali membaca apa yang kau tulis, ku bilang "membacamu seperti mendengar kau bercerita, dan aku suka"
tapi lantas kini aku sudah tak tahu apa yang mau ku tulis, semenjak kau tiada.

Dalu ku, aku sudah lelah menuliskan kepedihan, apalagi menuliskan rindu, aku sudah tidak bisa lagi meletakkan mu didalam setiap huruf dan aku berhenti menulis.
tapi pun jika aku bilang aku berhenti menulisi mu rasa-rasanya aku pun tak sanggup, aku masih mencuri-curi untuk menuliskan rindu, aku diam-diam masih menuliskan cinta.

andai kau ada disini..
kau harus lihat aku lebam-lebam. mereka disini tidak mengenali ku, mereka tidak tahu jika mata ku hitam karena banyak menangis didalam hati, hanya mata mu yang bisa..

ah, Dalu, mata mu..
mata yang sama sejak awal kita bertemu, binar itu masih kuingat kala kau duduk disamping ku dan mata amarah ku berubah teduh, asal kau tahu, mata mereka semua tidak seperti mata mu..
mata mereka kosong, seperti mata ku kini.

Dalu, ku mohon jangan marah, aku ingin sekali bilang 'aku rindu..' tapi aku tahu aku tak boleh, jadi aku tulisi saja, aku pun dilarang menulisi mu lagi, jadi ku telan-telan semuanya
... sendiri.




Untuk Dalu, delusi..
depok, 1 februari 2016

20.42

SENINA








Selamat ulang tahun senina..
tempat dimana air mata ku bisa jatuh tanpa ku katakan mengapa..
tatapan mata dimana ku merasa kita telah berbicara hal..
logika dimana aku belajar untuk selalu memahami.

mungkin memang kita dilahirkan berbeda pondasi.
kau yang sok logis padahal melankolis
aku yang logis malah sok melankolis
tapi itu adalah alasan ku untuk selalu merindukan mu...

Senina..
Kau harus maafkan ku jika aku tak ada..
dan aku pun akan merelakan mu yang sok sibuk.
tapi percayalah, kau adalah alasan ku untuk tetap kuat seperti kau.
dan kau adalah refleksi ku untuk selalu bersyukur..
karena Tuhan mengizinkan aku utuk memiliki teman baik yang saling menjaga.

Bahagialah hatimu..
karena kau telah sempurna dengan semua yang kau miliki...

Ditulis untuk Febby Stephanie Ginting, merayakan 25 tahun.
Kota dimana kau pernah berusaha, Bandung.
11 Februari 2016


** Senina adalah salah satu sistem kekeluargaan pada masyarakat suku Karo; Senina : orang yang masih satu marga, namun beda cabang; (notes: dalam tulisan ini pengandaian saudara perempuan) 

Friday, January 29, 2016

Untuk penghuni kostan orange..

dear si monyet,

soal tulis menulis aku tak lebih apik dari apa yang kau lakukan, aku ini cuma komentator sok hebat, mengkritik setiap tulisan yang ku baca tapi padahal aku tahu, aku tak seciamik kau yang menari-nari di tulisan mu.
seperti tentang Lynda yang kita ributkan kemarin, padahal sudah kau susun rapi tahunan, lalu aku pun datang sebagai pengkritik, dan ku bilang "harusnya ga gitu..., harusnya ga gini.. harusnya begini..."
ah aku macam pembual.
tapi rupanya kau masih terus memanggil ku, meminta untuk ku kritik lagi tulisan mu, entah kau dengarkan atau tidak, kau terima atau tidak. tapi lagi lagi, kau memanggilku,
i know dude, we still need someone to tell what we do, even it false or right, eksistensi. kalo ternyata kita ada.

rupanya kita sama - sama paham, bahwa aku dan kamu masih suka saling mengkoreksi, dan akan selalu butuh itu.

i miss you deeply, nyet.
sorry, i'm not always beside you..

but, koreksi aku terus nyet! biar aku tahu kalo aku (kita) tidak sendirian.
minimal ada sahabat dekat nun jauh disana yang masih butuh untuk dikritik, jujur, dalam dan berani.
agar kita ga ngerasa kosong, lagi.

dear monyet..
bicara soal 'kekosongan' yang kamu terjemahkan didalam tulisan mu... harusnya hati dan hidup kita ga kosong nyet, karena sesungguhnya hati bukan punya kita, tapi hati yang membawa kita jadi jiwa yang besar, kenapa gitu..? karena hati itu punya Tuhan , Cuma Tuhan yang bisa mengendalikan hati, memputar balikan hati, kalau ada Tuhan didalam hati, penuh maka kekosongan pun tak ada cela. aku harusnya paham, ga lari-larian lagi.


so, koreksi aku lagi nyet, biar aku tahu kalau kamu tetap ada, aku pun begitu..


see you soon ...

purwakarta, 29 Januari 2016

Thursday, November 26, 2015

The Woman's Book - Tarot Writing #1



The woman. she's know what she’s believed.
She's already know her name and what her purpose to do..
She understand what she really wanted it and also what she needs ...

Staring at the sky, she saw her self,  she was the center of her universe, Her life; the water flowing in her soul, the soil attached to the pores of the skin, burning fire heartbeat and breathing air to infiltrate every blow. 
Mind - Body - Soul; Heart and Love.

Bring her to step on a new path. So what are questionable from the void, softness and her self was enough to accompany her reflect on what happened on the last path, yesterday. ..  Learn from mistake. do the best.
And she knows the peace in her own heart.

This is a playground, no need to rush. Build fantasies about butterflies in the stomach, because it is not a matter of what or who to inviting people to joy discussion but how she is ready to customize her step ... slowly.
She dared to stand against all fears, because of her love; not about who was beside her, but how she can controls herself. Now, feels like more beautiful smile Just because she knows that she is can.

Love your self first, and the universe will loves you more ...



The Rider Waite Tarot Deck.
East Jakarta - 26 November 2015




Thursday, November 19, 2015

Surat yang belum sampai..

Dear kamu, 


Long time no see,  long time a go...
Apa kabar kamu...? 
it’s so classic to i said like this.
I’m so sorry...
For everything that i’ve done.

Semoga 7 tahun bukan waktu yang terlalu lama untuk aku minta maaf sebesar-besarnya sama kamu.  Semoga permintaan maaf aku bukan membuka lagi luka yang disimpan rapat-rapat, atau mengoyak lagi luka yang selama ini diusahakan untuk sembuh.

Since that day, i’ve changed, and i hope also to you..

Selalu ada ruang kosong di hati saya, sesuatu yang saya simpan dan ikut kemana pun saya pergi, kamu. Dan itu adalah... saya tahu, saya telah menyakiti mu begitu dalam.
Dan... selama ini saya berusaha juga untuk menyelesaikan semua yang ada di kepala saya, di hati saya.

... kalau kamu tahu, dunia saya berubah, semenjak cerita kita selesai, bertahun-tahun saya membawa sumpah serapah mu, membawa hal yang kau bilang akan menjadi nyata untuk saya... kau bilang.... hidup saya akan berantakan.

Honestly, i got mess life living...

Dan saya terima semuanya.
Dan sekarang saya memiliki hidup terindah yang sudah seharusnya memang menjadi jalan saya, terima kasih, kamu membukakan saya jalan...  semua sudah lebih baik sekarang, saya harap kamu juga begitu.

Jika terlalu berat untuk mu dan keluarga memaafkan saya, saya dan keluarga setulusnya meminta maaf untuk mu..  semoga tak ada lagi dendam dan maki didalam hati kecil kita masing-masing.

Konyol rasanya, tapi saya harus bilang sama kamu...
Maaf untuk kekanak-kanakan saya dulu.
Sekarang mungkin kita sudah cukup dewasa untuk saling memaafkan...

Story ended  for begining another story...


Semoga bahagia selalu didalam hati mu...   



Rasa Doa Asa Sentuhmu : Aku, Kita



Sedang apa kau disana…?
Telah sampaikah apa yang sudah aku kirim padamu..? dan kau menjawab.. apa yang telah kau kirim..

“Do’a dan kecup jauh…”
coba pejamkan mata mu sebentar, dengarkan aku berbisik dibalik huruf yang berjejer itu. 
Aku pun memejamkan mata ku, disini dimana ada hangat yang kau kecup, karena paling dekat dengan tanah, paling dekat dengan do’a. Kening. Seperti yang pernah kau katakan, untuk ku yang akan kau tinggal sendiri dan aku ingin tak lagi takut.



Dan aku menunggu.
Aku menunggu mu, disini…

Dan kau bilang, tak perlu lah menunggu mu, dan aku dalam persepsi ku, sayang, setidaknya aku telah mengusahakan.

Dan rindu itu tidak pernah bohong, apa kau tak lelah bicara dan bertanya tentang tulus..? bukankah ketulusan adalah hal yang tak perlu ditanya dan tak bisa dijawab.

Ada tiga kesatuan dalam diri manusia; Otak, Hati dan Tubuh. aku takut jika aku harus tahu bahwa mungkin aku tidak ada didalam bagian manapun, dan kau memastikan lagi untuk menyertakan Kehidupan didalam hal keempat, dan kata mu aku sudah ada disana, dalam hidup mu.

Dan kita berlari-lari kecil ditepian pantai, menyisir pasir dikala ombak datang, pantai yang selalu ingin kita berdua datangi…
“aku bingung…”
“aku juga bingung..”
“aku harus bagaimana..?”
“aku pun harus bagaimana.. hhmm.. bagaimana jika kita berpegangan..”
“apa yang harus ku pegang…”
“tangan ku, genggaman ku..”
“jadi kita bergandengan, jangan kau lepas…”
“bagaimana jika suatu hari nanti aku lepaskan.. apa yang akan terjadi dengan tangan mu…?
“tangan ku tetap disini menunggu lagi kau genggam…”

Tapi aku tak ingin seperti pasir yang kau genggam terlalu erat, Sayang…
Aku tak ingin hanya menjadi butir…  seperti yang kau katakan tentang pasir.. tidak perlu ada yang meluap-tidak ada yang perlu tergesa..
Karena masing-masing kita telah disini…

Dan mimpi menjembatani ku tentang mencintai mu…
Jika aku tak bermimpi maka tentu aku tak akan bangun bersama mu, atas hidup ku hari ini.
Jika kelak kau tidak lagi sehangat dan selembut ini lagi, sekiranya kita pernah saling tenggelam didalam pelukan hangat.  

Dan semoga kita akan tetap saling menjaga, dalam ucap mu memintaku jaga diri.. dan bait do’a ku agar kau menjaga hati mu..

Karena, semoga, kelak akan datang untuk kita; Takdir. 



Merayakan sentuhan mu ....