Wednesday, July 6, 2011

Kita Hanya Sedang Menjaga Diam..

Adakah aku di dalam gelas kopi mu?? 

AKU memetik bintang diam – diam. Meletakkannya didalam tas abu – abu ku, barangkali disana malam akan lebih gelap, setidaknya aku tidak bersandar sendiri saja. Bukannya takut malam, toh sudah terbiasa bukan? Hanya saja aku tak ingin terlalu larut menelan mentah kegelapan lagi, setidaknya, bintang bisa ku sapa, ku pegang.

Kita masih duduk disini berdua, bersembunyi dari alunan knalpot yang sudah dari tadi tidak juga berhenti malah di sisipi bunyi klakson bersautan, berisik tapi aku tenang, bintang sudah ku genggam dan sebentar lagi kamu akan ku peluk erat, tapi ternyata tidak, sudah seratus satu menit kita terdiam seperti ini, sesekali memperhatikan segelas kopi hitam yang sudah dingin milik ku, dan melirik ampas kopi di gelas mu. Masih seperti ini, tanpa kata, setidaknya kita telah jujur pada hati kita, kita memilih diam, menikmati saat ini, yang mungkin tak akan lagi aku temui.

Aku tak ingin lagi dengar lembaran berita sore ini yang kau katakan padaku, aku tak ingin membaca mu lagi, semua sudah lebih dari cukup, diam ternyata lebih baik. Meski berdampingan tapi diam lebih memukau ku di banding mencumbu mu, untuk saat ini.

Esok aku tidak akan kembali lagi ke kursi bambu ini, aku tidak akan lagi duduk disini melepas dan mengikat tali sepatu putih butut ku, aku tidak akan lagi curi – curi pandang dan terang-terangan mendengarkan tawa renyah mu, aku tidak akan lakukan semua itu lagi, aku tidak akan berbaring lelap disini saat malam datang dan aku kelimpungan menahan mual karena terlalu banyak anggur yang ku minum, aku tidak akan lagi bersin karena abu rokok yang menumpuk seperti vulkanik minta di sapu, aku tidak lagi menggendong kucing kecil warna kuning itu, dia selalu kelaparan, kamu tahu itu.

Aku tidak akan lagi.

Jadi biarkan aku diam, dan kita sama-sama terdiam tanpa harus saling mengoyak, saling membenci dan membuang masing-masing kita. Kita lebih baik saling terdiam seperti ini. Terasa lebih tenang ketika harus menangis dalam diam, dan menjadi aku di dalam diam, setidaknya aku tetap menghangatkan angan ku sendiri..
Lalu
Aku meninggalkan mu dengan ampas kopimu dan aku tertinggal oleh diriku bersama kopi dingin yang tak sempat ku minum lagi…

Selama seratus satu menit ini kamu tidak pernah ada, seperti biasa, tidak pernah ada kamu, saat ini atau waktu yang lalu, kamu tidak pernah ada di dunia ku, hanya di setiap kata yang ku ucapkan, dan ini adalah perpisahan. Kertas akan terobek, tinta akan tumpah sementara untuk kita diam kadang lebih baik. Saat aku tidak lagi bicara kamu tidak lagi menguasai pikiran ku.. bukankah diam lebih baik?

Selamat berlalu, cari aku di pinggiran gelas kopi mu, semoga aku ada disana, masih disana. 



---kembali mendengarkan Kata - The trees & The wild  
06 Juli, 23.04

No comments:

Post a Comment